Selasa, 10 Juli 2007

SI Semarang dan Onderwijs

Tan Malaka (1921)


Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)


Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987

PENDAHULUAN

Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini, yang maksudnya hendak menggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat.

Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.

Buku ini tentu belum sempurna, sebab sekolah SI masih baru sekali. Lagi pula kita sengaja bercerita pendek, buat menerangkan yang perlu saja, sehingga orang yang tidak paham dalam hal ilmu didikan, juga bisa mengambil arti yang berguna bagi dirinya sendiri.

Kita berharap, bahwa dengan cerita yang pendek itu, beserta gambar-gambaran, sampai maksud kita yakni hendak melukiskan didikan Rakyat yang kita katakan tadi. Sungguhpun kita belum tahu, akan hasil perbuatan kita, tetapi kalau kita tilik sikapnya pihak sana, maka kita boleh mengambil keyakinan, bahwa jalan kita ada baik. Baru saja sekolah kita dibuka, Surabayasch Handelsblad serta konco-konconya sudah berteriak : “Hai, pemerintah awasi sekolah SI itu”. Wakil pemerintah di Semarang (Ass. Resident) sudah melarang membikin pasar derma (dengan art 520. WVS ??), yang selamanya ini boleh dilakukan, melarang anak-anak kromo meminta darma dengan menyanyi international (sepanjang art 154. WVS).

Pendeknya sekalian halang-halangan itu, yang dirasa menutup jalan untuk memperbaiki sekolah, sudah menimbulkan protest besar pada tanggal 13 Nopember ini, pada vergadering SI yang dikunjungi oleh kira-kira 5000 orang lelaki dan plm. 4000 orang perempuan. Perkara tanah yang juga penting buat Rakyat Semarang cuma memakan kira-kira 1 jam, sedangkan perkara onderwijs itu ada menghabiskan waktu kira-kira 2 ½ jam.

Selama kita tinggal di Semarang, belumlah pernah kita menyaksikan suara yang begitu tajam dan keras, baik dari pihak Destuur ataupun lid-lid SI. Sikapnya vergadering tadi seolah-olah seekor burung, yang anaknya disambar Elang. Di dalam di luar vergadering (di desa-desa) kita mendengar: SI school mesti terus:

Ya, SI school mesti terus, inilah jawab kita.

PERATURAN ONDERBOUW (SEKOLAH RENDAH)

Bahwa sekolah SI bukan seperti sekolah particulier yang lain-lain, yakni pertama sekali buat mencari keuntungan, bolehlah kita buktikan dengan bermacam-macam jalan. Bukan saja karena ongkos buat uang sekolah adalah lebih enteng, dan pengajaran ternyata lebih baik seperti keterangan anak-anak sendiri yang datang dari sekolah-sekolah partkulier, tetapi yang terutama sekali, karena hawa (=geest) di sekolah SI ada lebih sehat dan lebih dekat pada watak dan sifat anak asal dari Timur, yakni kalau kita bandingkan dengan geewst di sekolah-sekolah partikulier atau HIS Gouvernement. Nyata buat kita yang anak-anak suka bekerja keras untuk mencari kepandaian, yang perlu kelak buat keperluan hidup (seperti membaca, menulis, berhitung, bahasa dsb) pada dunia kemodalan, yang tiada mempunyai kasihan satu sama lain, pada dunia yang memberi rezeki dan keselamatan cuma pada yang kuat dan pintar saja. Itu memang kewajiban kita sebagai gurunya, supaya kelak anak-anak yang keluar dari sekolah SI cukup membawa senjata untuk perjuangan kelak dalam hal mencari pakaian dan makanan buat anak istrinya.

Pula kita tidak lupa, bahwa ia masih kanak-kanak dalam usia mana ia belum boleh merasa sengsaranya hidup dan berhak atas kesukaan bergaul sebagai kanak-kanak.

Perkara yang ketiga kita ingat juga, bahwa murid-murid kita kelak jangan hendaknya lupa pada berjuta-juta Kaum Kromo, yang hidup dalam kemelaratan dan kegelapan. Bukanlah seperti pemuda-pemuda yang keluar dari sekolah-sekolah biasa (Gouvernement) campur lupa dan menghina bangsa sendiri.

Ringkasnya maksud kita yang terutama :

  1. Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb).
  2. Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging).
  3. Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo.

I. Memberi senjata cukup, buat mencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, membacara, babad, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda dan sebagainya).

Perkara yang pertama ini tidak perlu kita panjangkan. Tiap-tiap kita yang keluar dari sekolah sudah tahu, apa artinya pengajaran sekolah hari-hari. Cuma kita dengan pengajaran sekolah itu juga mesti bangunkan hati merdeka, sebagai manusia dengan bermacam-macam jalan. Lagi pula kita mesti bangunkan sifat-sifat kuno, yang terbilang baik. Nyanyi-nyanyi jawa dan wayang-wayang begitu juga menggambarkan wayang-wayang yang begitu sukar kita hargai tinggi. Dalam dua tiga hari saja dinding sekolah kita sudah penuh dengan bermacam-macam gambaran wayang (Bambang Irawan, Prabu Doso Muko, Gatot Koco dan sebagainya), yang digambar oleh anak-anak sendiri dalam waktu temponya. Dalam kepintaran menggambar ini kita sebagai guru mengaku tunduk sama anak-anak yang berumur 10 atau 12 tahun itu. Kita berani mengatakan, yang juga anak-anak eropa yang berumur sebegitu, atau lebih, mesti akan kalah sama anak-anak kita. Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda1, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko.

Perkara berhitung, tentu kita berani tanggung. Kita tahu, bahwa orang-orang sekolah kelas II dahulu lebih pintar berhitung dari keluaran sekolah HIS sekarang, seperti juga orang-orang keluaran sekolah kweekshchool 20 tahun yang lalau umpamanya, lebih gemar dan lebih pandai berhitung dari keluaran kweekschool sekarang. Tentulah bahasa Belanda itu sangat menghambat kemajuan berhitung. Juga caranya mengajar. Dahulu orang-orang itu disuruh sendirinya saja berhitung. Cuma apa yang tidak bisa saja yang diterangkan.

Bukankah seperti sekarang guru-guru mabuk methode (cara mengajar), sehingga anak-anak tidak bisa cari jalan sendiri. Kita ingat akan babad onderwijs (sejarah pendidikan) di negeri Belanda, dimana orang-orang tani desapun, beberapa ratus tahun dulunya, turut campur berhitung. Semua isi desa memikirkan suatu persoalan, dan yang mendapat pendapatan dimuliakan betul. Kita sendiri masih ingat akan masa, dimana teman-teman kita murid sekolah kelas II (bukan HIS) kesana sini pergi mencari hitungan. Di sekolah SI kita biarkan juga kemauan berhitung itu. Yang pandai kita suruh terus, beberapa kuatnya saja, sehingga sudah ada anak yang duduk di kelas IV umpamanya, yang sekarang sama kitab hitungannya dengan kelas V HIS.

Kita memang tidak pakai Rooster (daftar pengajaran) seperti HIS. Tidak saja dalam berhitung kita lepas anak-anak sebagaimana kuatnya, tetapi dalam hal mengajar bahasa (Belanda) kita melanggar Rooster. Di kelas II umpamanya duduk anak-anak ada yang sampai berumur 13 tahun. Anak-anak ini keluar sekolah kelas II. Kita mesti terima anak-anak ini. Kalau tidak tentu dia mesti mondar-mandir saja di jalan rayat, karena sekolah yang lain buatnya tidak ada, atau terlampau mahal.

Kita jangan lupa, bahwa diantaranya banyak yang kencang otak, cuma tak bisa bahasa Belanda saja. Tetapi sebab kelak perlawanannya ialah kaum modal, yang memakai bahasa Belanda, maka perlu sekali kita ajarkan betul bahasa itu, terutama untuk mengerti, baru yang kedua untuk menulis atau berbicara dalam bahasa itu. Jadi sebab anak-anak berumur 13 tahun ke bawah itu sudah bisa berhitung buat kelas II, sementara kita pentingkan mengajarkan bahasa Belanda. Tentulah sementara saja, karena kita tidak lupa akan pengajaran lain-lain.

Anak-anak keluaran kelas II itu menjadi pertimbangan yang penting sekali buat kita. Untuk mencari pekerjaan mereka itu masih amat kecil. Tetapi ia tiada bisa meneruskan pengajaran. Sebab itulah mereka itu merasa sampai hati sanubarinya dihimpit oleh kemodalan, yang memberi onderwijs (pendidikan) buat yang kaya dan yang mampu membayar saja. Inilah anak-anak yang mudah dimasuki rasa kemerdekaan karena mau naik, tetapi tiada bisa. Pemuda-pemuda semacam inilah di Rusia, yang di muka, di medan peperangan yang menahan pelornya kaum Modal, yang mempertahankan peraturan Komunisme, yang memberi kesempatan bagi kemajuan pikiran dan perasaan pada tiap-tiap manusia. Anak-anak kita di SI school yang keluar kelas II ada serupa kaumnya di Rusia tadi.

Dialah yang rajin, gemar dan kalau menyanyikan internasional (lagunya kaum yang tertindas di atas dunia), maka suaranyalah yang keras dan matanyalah yang bercahaya api, disebabkan oleh arti lagu internasional itu.

Selain dari pada vak-vak (mata pelajaran) berhitung, menggambar, bahasa itu, tentulah vak-vak ilmu bumi, babad (sejarah) dunia, menyanyi dan sebagainya kita ajarkan dengan cara dan dasar, yang cocok dengan haluan kaum SI, ialah kaum yang melarat. Semua ini belumlah program yang sempurna. Kalau ada perlu tentu disana-sini boleh dirubah.

II. Memberi haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan.

Kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak di sekolah-sekolah masa sekarang, maka sia-sialah kita mencari geest (hawa) yang sepadan dengan usianya anak-anak. Murid-murid sekarang kerjanya lain tidak semacam mesin pabrik gula, yang siang malam tak berhenti bekerja. Siang malam anak-anak mesti belajar dan menghafalkan pelajaran, sehingga tiadalah berapa waktu tinggal untuk bermain-main. Lain dari pada waktu uitspanning, (main-main di pelataran) tiadalah ada mereka sanggup bercampur-campur. Satu sama lain kenalnya di kelas saja, sehingga kanak-kanak tiada merasa enaknya kumpul-berkumpul. Sifat ini kelak kalau besar akan terbawa-bawa juga, sehingga tiap-tiapnya orang suka mencari kesenangan sendiri-sendiri saja.

Anak-anak itu memangnya suka berkumpul-kumpul. Dalam permainan apapun juga, ia ada mempunyai peraturan sendiri. Sungguhpun peraturan tadi (dalam main layangan umpamanya) tidak dituliskan pada Reglement, tetapi mereka yang kecil-kecil itu tiada akan melanggar peraturan yang tetap. Dalam permainan apapun juga kita bisa pastikan, bahwa di sana ada kepala, yang menguruskan permainan, sungguhpun kepala tadi tidak dipilih dengan cara memilih seperti dalam sebuah vereeniging. Kalau ada anak yang melanggar adat bermain, mak anak itu lekas kena tegur dan kalau tiada mau mendengar, maka ia akan kena boycot.

Sifat yang batin-batin itu, mesti kita majukan, dan mesti kita sambung. Apa yang kurang mesti kita tambah. Tetapi tidak semacam guru tidak boleh jadi diktator dalam permainannya. Dia mesti merdeka sendirinya. Cuma kalau dia salah atau tidak tahu jalan, baru kita memberi nasehat.

Sifat suka bergaul itu kita sudah mencoba membangunkan sedikit dengan perkataan. Dengan lekas anak-anak kita di SI school mau mengambil buktinya. Dengan segera terdiri suatu “Commite untuk Bibliotheek” (perkumpulan buku-buku) dan baru-baru ini Commite Kebersihan, dan Voetbal Club (klub sepakbola), Coorzitter dan bestuur yang lain-lain sama sekali dipilih oleh anak-anak. Begitupun Reglementnya dibikinnya sendiri. Dalam watku uitspanning atau sesudah sekolah, maka kita melihat mereka sering mengadakan Vergadering, untuk merembukkan ini itu. Dalam Vergadering SI (orang besar) anak-anak kita yang berumur 13 atau 14 tahun itu sudah pernah bicara, di Semarang ataupun Kali Wungu.

Sedangkan orang-orang tua dan pintar masih gentar dan takut bicara di muka orang banyak; tetapi anak-anak SI school sudah pernah menarik hati orang-orang tua, lantaran keberaniannya. Mereka yang kecil, yang memakai selempang, ditulis dengan rasa kemerdekaan, anak-anak yang berpidato dan menyanyikan internasional, sudah pernah menjatuhkan air mata beberapa lid SI yang mengunjungi Vergadering.

Anak-anak kita akan terus bikin propaganda untuk Bibliotheeknya tadi. Selama ini disambut dengan girang hati. Begitu juga murid-murid SI ada berpengarapan, yang kasnya akan lekas terisi derma, dan lemarinya akan terisi buku-buku, yang dikehendakinya.

Dalam hal organisasinya tadi, kita hampir tiada menolong apa-apa, karena maksud kita bukan hendak mendidik anak-anak jadi Gromopon. Kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri.

Besar pengharapan kita, bahwa kelak Vereeniging yang lain-lain seperti tooneel (komidi, sandiwara), wayang menyanyi, surat kabar dan lain-lain, yang setengahnya sekarang masih dalam pikiran saja akan hidup dan maju seperti “Vereeniging Bibliotheeknya” ini.

III. Menuju kewajibannya kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo

Ini maksud mudah dituliskan, tetapi tiada mudah disampaikan. Kita jangan lupa, bahwa kita mengajar kanak-kanak, yang belum pernah membanting tulang sendiri buat mencari penghidupan untuk anak istrinya. Seorang yang mempunyai hati dan pikiran yang suci mudah kemasukan iblis, kalau sudah ditimpa bahaya kemelaratan hidup. Demikian juga kelak anak-anak keluaran SI tentu akan ada juga yang pecah iman, kalau mesti masuk pada neraka kemodalan. Hal itu tentu tiada boleh menakuti kita; hanyalah menambah memaksa memikirkan daya upaya, supaya anak-anak keluaran sekolah SI jangan kelak membelakangi Rakyat.

Kalau kita periksa dalam-dalam segala perkara-perkara yang memisahkan pemuda-pemuda keluaran sekolah Governement dari Kaum Kromo, maka ternyatalah, bahwa perkara-perkara itu mesti dicari pada sifatnya didikan sekolah-sekolah tersebut.

Di sekolah Governement diajarkan kebersihan pada murid-murid, tetapi tiada dibilang, bahwa Kromo tiada tahu, apa yang bersih, kalau tahu apa bahaya kekotoran. Nanti kalau murid-murid ini sudah besar, maka tiadalah sedikit juga kehendak padanya untuk membangunkan kebiasan kebersihan itu pada kaum melarat itu. Tidak, malah mereka dalam batinnya turut benci pada si Kromo yang kotor katanya itu, dan turut membilang, bahwa kekotoran itu memang sudah sifatnya si Kromo. Jadi didikan sekolah Governement semacam itu, yang tiada disertai kecintaan atas Rakyat, tiada menanam kewajiban buat menaikkan derajat Rakyat menyebabkan, maka didikan itu menimbulkan suatu kaum (bernama kaum terpelajar) yang terpisah dari Rakyat.

Tentulah tiada perkara kebersihan saja yang mendatangkan pisahan itu. Juga kepandaian, adat istiadat, yang didengarkan atau dibacanya dalam sekolah, sama sekali tidak menanam belas kasihan pada Kromo. Dan kalau tiada dibangunkan rasa kewajiban dan kecintaan, maka sudahlah tentu yang bersih pandai dan sopan itu tiada akan tahu menahu yang kotor, bodoh dan biadab, kata kaum sana itu.

Perkara juga yang bisa mendatangkan pisahan itu ialah perceraian kerja tangan dan kerja otak. Sekolah biasa dianggap cuma buat mencari kepandaian otak saja. Itulah pula kerjanya anak-anak itu hari-hari. Dahulu kala, dan sekarang juga, anak-anak itu di desa turut mencangkul atau bertukang. Semuanya dilakukannya dengan kegemaran. Tetapi pada sekolah zaman sekarang bertukang atau mencangkul itu cuma dilihatnya saja baik dalam perjalanan atau pada gambar-gambar sekolah. Kalau pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan oleh kaum kotor, bodoh dan sebagainya, heranlah kita, kalau pemuda-pemuda yang bernama terpelajar itu kelak berpikir: Kerja tangan itu rendah sekali?

Di sekolah SI tidak saja dibilang apa yang bersih, tetapi diajarkan sendiri mencari kebersihan. Jongos-jongosan tidak ada.

Baru-baru ini sesudah kita mencela kekotoran sekolah dan perkakasnya sekolah kita sendiri, maka segera dibangunkan “Commite kebersihan”, Commite inilah yang menjaga supaya segala pekerjaan berhubung dengan kebersihan sekolah (bangku, bord, dsb) dilangsungkan. Kalau sekarang belum pukul delapan kita memasuki kantor SI maka kelihatanlah anak-anak yang bersingsing lengan baju, memegang kain atau ember untuk membersihkan bangku atau bord (papan tulis). Ini kemajuan besar. Karena, kalau 2 atau 3 bulan yang lalu, kita sedikit minta tolong, umpamanya membersihkan papan, maka kita lihat muka yang seolah-olah mau berkata : “Ini pekejaan jongos”.2

Memandang rendah pada pekerjaan tangan, yakni kerja ibu bapaknya hari-harian, itulah yang mau kita perangi dengan sekuat-kuatnya. Anak-anak mesti cinta pada segala macam pekerjaan yang disahkan (halal).

Sesudah kita bisa buang sifat didikan yang bisa mendatangkan benci pada kaum Kromo (yang kerja tangan) itu, maka harus kita perhubungkan anak-anak kita dengan kaum melarat. Itulah gunanya, kalau ada tempo kita membicarakan nasib si kromo; kita menanam hati belas kasihan sama bangsa yang tertindas; kita menunjukkan kewajiban sebagai anak kaum yang tertindas itu. Sebab itulah kita membangunkan hatinya, supaya berani bicara dalam Vergadering SI, atau Vergadering Kaum Buruh.

Bijak dan berani berpidato, yakni kepandaian yang dimuliakan oleh segala bangsa yang merdeka, baik dahulu, baik sekarang, bisa ditanam cuma dengan jalan Vergadering saja. Kalau kita amat-amati pemimpin-pemimpin muda kita, baik dalam Commite Bibliotheek, “Commite kebersihan” atau “Voetbal Club” dalam Vergaeringnya masing-masing, maka mudah kita saksikan, bahwa dalam Vergaderingnya itu ada orde (aturan), dan ada hati sungguh (baik dari pihak speker (pembicara) ataupun yang mendengar). Kadang-kadang kita heran melihat, bagaimana seorang kanak-kanak bisa mengenggam Vergadering yang dikunjungi oleh lebih kurang 180 anak-anak. Vereeniging inilah suatu sekolah, yang besar artinya untuk mendidik rasa dan hati mereka; mendidik untuk memikirkan dan menjalankan peraturan buat pergaulan hidup, mendidik untuk fasih dan berani bicara, didikan mana dalam zaman perbudakan ini lebih besar harganya dari pada mengetahui, berapa banyaknya sungai-sungai di pulau Borneo umpamanya.

Kalau kita bisa menyambungkan perkumpulannya dalam sekolah itu dengan perkumpulannya ibu bapaknya seperti Serikat Islam, maka rasanya kelak, kalau ia keluar sekolah tidak akan berpisah dengan ibu bapaknya itu. Sebab itulah maka kalau ada vergaering SI Semarang, kita mengajak anak-anak yang sudah mengerti, mengunjungi vergadering tadi.

RINGKASNYA :

  1. Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan menguruskan sendiri pelbagai-bagai vereeniging, yang berguna buat lahir dan batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan vereeniging-vereeniging tadi anak-anak itu sudah belajar membikin kerukunan dan tegasnya sudah mengerti dan merasa lezat pergaulan hidup.
  2. Di sekolah diceritakan nasibnya Kaum Melarat di Hindia dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan kemelaratan itu. Selainnya dari pada itu kita membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina itu, dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan kewajiban kelak, kalau ia balik, ialah akan membela berjuta-juta kaum Proletar.
  3. Dalam vergadering SI dan Buruh, maka murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri suaranya kaum Kromo, dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan dengan usianya (umur), pendeknya diajak berpidato.
  4. Sehingga, kalau ia kelak menjadi besar, maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela Rakyat tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan kebiasannya masing-masing.

PERATURAN MIDDENBOUW (SEKOLAH TENGAH)

Demikianlah bunyinya program SI school di Semarang. Menilik nama Brosure kita yakin bahwa maksud kita bukan hendak mengadakan satu sekolah saja, malah mempertimbangkan hal onderwijs (haluan didikan), juga buat SI. Tegasnya maksud kita mencari suatu macam didikan yang bisa mendatangkan faedah bagi Rakyat, negeri-negeri lain di luar semarang, yang mau mendirikan sekolah seperti di Semarang, maka kita mesti mengatur sekolah itu seperti di Semarang juga.

Sampai sekarang sudah ada tiga atau empat kota yang sudah meminta pada kita, supaya diadakan dan diatur pula sekolah-sekolah SI. Kota-kota itu sudah siap murid, siap bangku sekolah dan perkakas yang lain-lain. Cuma belum siap akan gurunya. Perkara guru itu penting sekali. Jarang guru keluaran keewwkschool, yang mau atau berani memihak pada kita, kalau memihak, ialah karena gaji saja, bukan karena hati atau haluannya.

Sebab itulah kita sendiri pula mesti menanam guru buat SI school itu (sekolah tengah). Pekerjaan ini sudah kita mulai, jadi tidak tinggal dalam pikiran saja lagi. Setiap sore (sementara ini baru 3 x satu minggu saja) di kantor SI diadakan kursus mengajar murid-murid SI yang kelas V, VI, dan VII (jadi murid-murid yang berumur dari 15 tahun ke atas) menjadi guru. Murid-murid itu biasanya kebetulan keluaran sekolah kelas II, jadi sudah menerima pengajaran dalam berbagai-bagai kepandaian. Dalam kepandaian yang tersebut dan dalam bahasa Belanda mereka tiap-tiap pagi dari pukul 8 – 1 dapat pelajaran. Sebab ia keluaran kelas II tadi, maka ia biasanya lekas sudah berhitung, menulis dan sebagainya. Jika ia sudah, maka ia segera disuruh menolong mengajar di kelas rendah SI school yakni pada anak-anak yang baru masuk sekolah. Jadi murid-murid yang besar-besar tadi tiap-tiap hari boleh belajar mendidik, tidak dalam teori saja, malah juga dalam praktek.

Pendeknya kerja murid-murid di atas dari kelas V yang keluaran sekolah kelas II, dan berumur lebih dari 15 tahun adalah seperti di bawah ini :

    1. Dari pukul 8 – 1 (pagi) ia meneruskan pelajarannya di sekolah. Karena ia lekas sudah mengerjakan tiap-tiap vak, maka selama ¼ jam temponya itu, ia disuruh membantu guru-guru SI di kelas I dan II (semacam guru bantu).
    2. Tiap-tiap sore murid-murid besar itu diberi ilmu pendidikan (paegogogie), supaya teorinya buat mengajar semacam guru.

Selamanya ini pekerjaan ada langsung. Sebentar lagi kita memang berani mempercayakan kelas I sama sekali kepada anak-anak yang sudah kena kursus itu. Tentulah kursus sore itu belum bisa sempurna, sebab belum cukup banyaknya anak-anak yang dari kelas V ke atas itu. Sesudah tiga atau empat tahun lagi barulah kursus sore itu bisa diatur semacam kweekschool yakni dikasih pengajaran sama tinggi dengan kweekschool Gouvernement. (kita sendiri juga sudah keluaran Kweekschool Gouvernement itu).

Tetapi sebab permintaan negeri-negeri yang lain-lain di atas tadi, maka dari sekarang kita mesti bersiap. Tiadalah ada salahnya kalau sekarang lebih dahulu kita bicarakan gaji murid-murid keluaran kursus tadi. Kalau murid sudah mendapat kursus 1 tahun, jadi dihitung berhak mengajar di kelas I SI school, maka gajinya plm. bisa f 40,-. Kalau murid itu sudah dapat kursus 2 tahun jadi dihitung berhak (bevoegd) mengajar di kelas II SI school, maka gajinya kira-kira bisa f 50,-. Demikianlah berturut-turut, sehingga kalau guru-guru tadi sudah berhak (bevoegd) mengajar di kelas VII SI dan umurnya dipukul rata 22 tahun, maka gajinya bisa f 100,-. Kalau sekolah maju dan muridnya bertambah-tambah, tentu gajinya guru keluaran kweekschool SI bisa sempurna.

Di bawah ini kita kasih begrooting, yang kira-kira bisa diteruskan di kota besar-besar seperti Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dsb.

SI, school yang mempunyai murid 300. jumlah uang sekolah sebulan = 300 x f 3 = f 900. Gaji guru-guru = f 40 + f 50 +f 60 + f 70 + f 80 + f 90 + f 100 = f 490. Sisa = f 510.Yang f 500 lebihnya ini boleh sebagian dipakai untuk menambah gaji guru yang sudah lama dinas, yang rajin, pandai dan sebagainya sehingga rasanya maximum f 200 bisa didapat. Banyak murid itu bisa lebih dari 300, karena kita bikin paralelklassen (Ia, Ib, Ic; kelas-kelas ini sama pengajarannya, Cuma gurunya lain-lain, sehingga di klas I saja bisa masuk lebih dari 2 atau 3 guru, dan murid lebih dari 100 atau 200).

Jadi pendeknya pemuda-pemuda keluaran kursus SI Semarang, bisa jadi guru di SI school lain-lain. Buat anak-anak keluaran kelas II school juga kita terima terbuka jalan buat memimpin Rakyat, baik yang kecil, baik yang besar. Karena sesudah sekolah, maka guru-guru SI school bisa membela perkumpulan politik atau Vakvereeniging, ilmu-ilmu mana di SI school sudah diteori dan dipraktekan.

Berapa perlunya onderwijs di Hindia ini tiadalah berguna dibicarakan lagi. Berapa banyaknya kota-kota yang bisa kita rebut sekolahnya sudah terang, bahwa Gouvernement tidak akan bisa dalam 10 tahun ini memberi pengajaran pada 50 % anak-anak saja (di tanah Jawa saja baru kira-kira 2 % orang keluaran sekolah Gouvernement) karena memangnya tidak ada orang, kalau buat ornderwijs, sebab sudah banyak termakan oleh lasykar darat dan laut. Pemerintah sekarang asyik membicarakan dan meneruskan perkara armada laut, yang akan memakai ongkos kira-kira f 220.000.000,- Apalagi leerplicht (paksaan memasukan tiap-tiap anak ke sekolah), tentulah masih bertambah mustahil (jauh) lagi.

Buat kita SI yang memihak pada Rakyat masih besar pasar yang bisa direbut. Makin lekas kita bergerak, dan bersiaplah murid dan sekolah, makin lekas sampai maksud. Kalau kita kaum Rakyat kerja keras semacam ini, tentu dalam 10 atau 15 tahun sudah bisa memakan hasilnya pekerjaan kita. Sudah bisa beribu kaum yang tepelajar, yang pandai mengerti dan memihak dengan pikiran dan nyawanya pada Rakyat.

Peraturan onderwijs semacam ini tidak mimpi saja, tetapi bisa menjadi, ya, dan mesti menjadinya. Berulang-ulang sudah diterangkan, bahwa dari pemuda-pemuda keluaran sekolah Gouvernement tidak boleh kita mengharapkan besar pertolongan buat pergerakan Rakyat. Seperti sudah diterangkan di atas, anak-anak yang sebagian besar keluaran kweekschool SI bisa dapat pekerjaan di golongan SI (lain dari pada sekolah tentu vak-vak vereeniging akan suka mengambil anak-anak keluaran SI kita).

Anak-anak keluaran SI school, yang mau meneruskan pengajaran pada ambachtschool Gouvernement dan sebagainya, tentu dari pihak kita tak akan dapat halangan. Melainkan kita akan menjaga, supaya ia sanggup membuat examen (ujian). Sekarangpun rupanya sudah ada satu dua anak-anak yang baru-baru ini tidak diterima di HIS lantaran mana ia lari dari SI school kita, tetapi belum lama ini diterima di HIS tadi. Jadi rupanya pintu HIS Gouvernement, tidak ditutup buat anak-anak SI school.

Sebaliknya, kita tak perlu takut, bahwa skolah SI kita akan jadi kosong. Anak-anak keluaran kelas II berumur 12 - 13, yakni bibit kita sejati, tidak akan bisa diterima oleh Gouvernement. Lagi pula tiap-tiap minggu Kromo membawa anaknya pada kita, dan tiap-tiap minggu anak-anak minta keluar dari partikulir 1-1, dan masuk pada sekolah kita. Katanya sebab pelajaran baik, bayaran lebih murah dan buat anak-anak ada bermacam-macam permainan dan perkumpulan. Kebenaran itu boleh kita buktikan, dengan keterangan, bahwa ada murid kita yang dari Cepu, dari Sragen (Solo), dari Jawa Barat dan lain-lain. Diantaranya ada yang minta keluar dari HIS Gouvernement.

Pendek kata, dalam berlomba mencari pasar, yakni merebut mendidik sekalian anak Kromo, SI tak perlu khawatir. Makin besar dan banyak sekolah-sekolah kita dirikan, makin lekas kita sampai di padang kemajuan. Kalau onderbouw (sekolah rendah) sudah cukup, maka niscaya kita dengan pertolongan SI bisa mendirikan middenbouw (sekolah tengah). Kalau sudah ada umpamanya 6 sekolah rendah, dan sekolah-sekolah itu diatur dari central, maka tiadalah akan susah bagi tiap-tiap sekolah mengadakan fonds (dana) kira-kira f 100 sebulan, sehingga sesudah 5 tahun saja sudah bisa ada uang kira-kira f 40.000,- Dengan derma dan l.l uang itu boleh ditambah-tambah. Sesudah 5 atau 6 tahun SI school berdiri, yaitu sesudah kira-kira ada anak-anak yang mesti keluar, maka anak-anak itu boleh meneruskan pengajarannya di sekolah tengah SI ambachtsschool umpamanya.

Peraturan batin ambachtsschool itu kita mesti pegang sendiri (buku-buku baca, ilmu bumi, babad, dan sebagainya). Hanya perkara bertukang atau tehnik kita serahkan pada guru-guru yang biasa. Guru ini mudah saja didapat. Di negeri Jepang, Swedia, atau Swiss ribuan orang yang pandai dan mau meninggalkan engeri, kalau ada penghidupan yang sempurna di negeri lain. Juga di Hindia ini lambat launnya akan timbul pemuda-pemuda yang rela memihak pada kita. Ringkasnya perkara guru itu (tehnik) kita tak perlu sekejappun cemas, asal ada uang di Kas.

Pun buat anak-anak keluaran ambachtsschool atau sekolah tengah lain-lain itu, adalah akan mudah juga jalan penghidupan, asal didikannya kerakyatan. Asal masih ada Rakyat dan pergerakan di Hindia ini, maka bagi pemuda-pemuda itu akan cukup pekerjaan. Bersambung dengan Rakyat dia akan bisa memimpin Koperasi dalam pertukangan umpamanya. Lagipun di tempat lain-lain tentu ia bisa dapat kerja, asal pintar dan rajin saja.

Demikianlah ringkasnya saja maksud kita tentangan onderwijs buat Rakyat. Barangkali reaksi dan musuh kita tak akan kurang terus memfitnah dan menghalang-halangi daya upaya kita. Nyata sudah, bahwa dari pihak pemerintah kita tidak akan mendapat bantuan. Jangankan bantuan, tetapi kemerdekaan pun tidak kita peroleh, yakni kemerdekaan sepeti pada tiap-tiap orang atau vereeniging (partikulier dan zending) buat mendirikan sekolah yang cocok dengan haluan masing-masing.

Seperti Muhammadiyah, zending dan lain-lain di Hindia ini dapat kepercayaan dan bantuan lahir dan batin dari pihak pemerintah. Pada bulan Agustus tahun ini pemerintah sudah membenarkan statusnya “Vereeniging buat mendirikan dan menguruskan sekolah-sekolah Kristen untuk uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakonderwijs-nya di Jawa Tengah”. Dasar onderwijs-nya disebutkan Gods-Woord = Firman Tuhan, yakni Tuhannya kaum Kristen. Memang sudah lama di Hindia ini zending bergerak (Minahaasa, Batak, Ambon, Jawa). Memang sudah banyak di Hindia ini kaum Kristen, lebih-lebih dalam bala tentara (Ambon, Manado).

Meskipun di Hindia ini tinggal plm. 50 juta kaum Muslimin, tetapi pemerintah tiada menaruh keberatan atas propaganda-nya kaum Kristen, yang dalam babad sering berperang-perangan dengan kaum Muslimin. Kita orang perjuangan tentu tidak akan mengurangkan satu agama terhadap kepada agama lain – Cuma kita campur meminta kemerdekaan seluas-luasnya, buat onderwijs, yang sepanjang keyakinan kita cocok dengan keperluan Rakyat, yang melarat, Onderwijs mana juga oleh SI Semarang sudah di akui sah.

Tetapi seperti sudah disebutkan lebih dahulu, kita sudah dapat halangan keras, ketika SI mau mengadakan pasar derma, untuk memperbaiki sekolah saja. Juga baru-baru ini dilarang anak-anak mencari derma di desa-desa dengan menyanyi international. Karena kita tidak mendapat subsidi, maka derma itulah saja jalan buat kita, untuk meneruskan daya upaya. Sehingga kalau derma itu dihalang-halangi, maka sama artinya dengan menghalang-halangi sekolah Serikat Islam.

Pendeknya, sekolah kita ada bisa segenap waktu dapat ancaman atau bahaya.

Terus atau tidak kita semata-mata bergantung pada SI. Kalau SI sama sekali mau mempertahankan bibit yang sudah kita tanam itu seperti SI Semarang (Bandung, Sukabumi, dll juga akan mau) maka halangan tentu semuanya terhindar. Sesudah tentu maksud kita gampang dan lekas sampai.

Buat kita sendiri sudah cukup bukti yang menerangkan, bahwa peraturan SI school Semarang, sudah dimufakati oleh beribu-ribu kaum SI. Hal ini mengeraskan keyakinan kita, bahwa jalan dan haluan kita lurus dan sah. Apa kehendak dan perbuatan kaum sama, kita tunggu dengan hati tetap. Ikhtiar kita, yaitu hendak menarik hati SI terhadap kepada didikan kita, sudahlah cukup hasilnya.

Kepercayaan Rakyat yang sudah diperoleh itu bagi kita laksanakan sesuatu wet yang kita akui sah dan terkuasa; kepercayaan itulah saja yang menumpu (mendorong) kita dari belakang untuk berjalan terus, dengan tiada menoleh kiri kanan.

DAFTAR ARTI KATA-KATA ASING DALAM KARYA TAN MALAKA “SI SEMARANG dan ONDERWIJS”

  1. Onderwijs = Pengajaran, pendidikan, atau perguruan.
  2. Lid SI = Anggota Sarekat Islam.
  3. SI School = Sekolah atau Perguruan SI.
  4. Surabayasch Hendelsblad = Harian perdagangan Belanda yag terbit di Surabaya.
  5. Vergadering SI = Rapat atau pertemua SI.
  6. Destuur = Pimpinan / pengurus.
  7. Peraturan Onderbouw (sekolah dasar) = Tingkat bawah / dasar.
  8. Sekolah particulier = sekolah swasta.
  9. Hawa (geest) di Sekolah SI = lebih tepat : jiwa di sekolah SI.
  10. HIS Gouvernement = Hollands Indlandse School Governement = sekolah dasar pemerintah (khusus untuk pribumi anak pegawai negeri tingkat menengah ke atas).
  11. Vereeniging = perkumpulan, persatuan.
  12. Sifat-sifat yang kuno = lebih tepat : sifat-sifat yang lama.
  13. Dalam watku temponya = dalam waktu istirahat.
  14. Kweekschool = sekolah pendidikan guru (untuk sekolah dasar).
  15. Sekolah kelas II = sekolah ongko loro, sekolah dasar untuk anak pribumi golongan rendahan.
  16. Babad onderwijs = sejarah pendidikan.
  17. Kencang otak = berotak cerdas.
  18. Rusland = Rusia.
  19. Vak-vak berhitung, dll = mata pelajaran berhitung dll.
  20. Boycot = Boikot.
  21. Reglement = Reglemen, peraturan.
  22. Sifat yang batin-batin itu = Sifat kejiwaan itu.
  23. Bibliotheek = Perpustakaan.
  24. Voetbal Club = Perkumpulan sepak bola.
  25. Gromopon = Gramopon, pesawat pemutar piringan hitam.
  26. Bangku, bord, dsb = Bangku, papan tulis, dsb.
  27. Cukup aanleg dalam pertukangan = Cukup berbakat dalam pertukangan
  28. Bisa menggenggam vergadering = bisa menguasai pertemuan / rapat.
  29. Speker = Pembicara.
  30. Peraturan Middenbouw (sekolah tengah) peraturan tingkat menengah (sekolah menengah).
  31. Negeri-negeri lain = Daerah-daerah lain.
  32. Uitspanning (pauze) = Waktu istirahat (jedah).
  33. Begrooting = Anggaran.
  34. Parallelkalassen = Kelas-kelas sejajar, misalnya kelas I a, I b, dsb.
  35. Vakvereeniging = Serikat sekerja / buruh.
  36. Lasykar darat dan laut = Angkatan darat dan laut.
  37. Leerplicht = Wajib belajar.
  38. Ambachtschool Gouvernement = Sekolah tehnik pemerintah.
  39. Examen = Ujian.
  40. Diatur dari Centraal = Diatur dari pusat.
  41. Fonds = Dana.
  42. Uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakbonderwijs = pendidikan / pengajaran tingkat rendah, menengah dan kejuruan.
  43. Wet = Hukum, undang-undang.
  44. Babad = Sejarah.
  45. Commite = Panitia.
  46. Orde = Aturan.
  47. Pulau Borneo = Kalimantan.
  48. Ilmu didikan (paedagogie) = Ilmu pendidikan.

1 Tukang-tukang gambar seperti Rembrandt dan Jan Steen di negeri Belanda memang lebih dimuliakan dari pada berpuluh menteri-menteri (minister).

2 Kalau cukup modal segera akan kita ajarkan bertukang pada anak yang besar-besar anak-anak Jawa yang cukup aanleg dalam bertukang dan ukir-mengukir itu akan bisa membikin bangku, meja, kursi dan lain-lain. Maka hasil pekerjaan itu akan dijual oleh murid-murid sendiri. Pendek kata urusan pertukangan dan administrasi akan jatuh ditangan murid-murid. Sama sekali dengan peraturan koperasi. Cita-cita ini sudah menggemparkan SI school dan anak-anak bertanya : “Kapan, kapan dimulai”. Anak-anak bisa hidup merdeka, baik di sekolah, ataupun kelak. Kalau mau menyingsingkan lengan baju, tiadalah kelak perlu mengemis pada dan jadi budaknya kaum modal.


Politik

Tan Malaka (1945)


Ditulis oleh Tan Malaka di Surabaya, 24 November 1945

Sumber: Tulisan ini diambil dari buku Merdeka 100%, cetakan pertama, Oktober 2005, dengan ijin dari penerbit Marjin Kiri. Buku ini mengandung tiga tulisan Tan Malaka: Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.

Transcribed to HTML by Ted Sprague


PENGANTAR

DUA LUSIN TAHUN lamanya saya menunggu-nunggu kejadian yang berlaku dengan pesat dahsyat di Indonesia sekarang ini. Berbahagialah rasanya hidup saya karena bisa menyaksikan perjuangan di Surabaya selama satu minggu lamanya (17 - 24 November 1945).

Sikap dan semangat proletar, tani, dan pemuda Indonesia memuncak, sesuai semua karya dan pengharapan saya selama dalam perantauan. Di Shanghai atau Berlin, di Mesir atau Moskow, saya tak menjumpai sikap dan semangat yang lebih tepat-tangkas-tegap.

Tetapi rasanya masih ada kekurangan baik ditilik dari penjuru ideologi ataupun organisasi.

Pengalaman seminggu lamanya di masa Surabaya dihujani dengan pelor dan bom, ditambah pula dengan permohonan dari pihak pemuda yang sedang berjuang dengan hati laksana baja, saya dalam perjalanan ini terpaksa menulis beberapa brosur.

Yang sudah ditulis tergopoh-gopoh dalam perjalanan ini ialah Politik ini, yang berhubungan dengan kemerdekaan. Brosur yang kedua ialah yang berhubungan dengan Rencana Ekonomi. Yang ketiga akan berhubungan dengan Muslihat mempertahankan Republik Indonesia. Kedua buku yang belakangan itu diharap akan dihabiskan dalam perjalanan pula.

****

Percakapan tentang politik ini terjadi antara MR. APAL (wakil kaum inteligensia), SI TOKE (wakil pedagang kelas menengah), SI PACUL (wakil kaum tani), DENMAS (wakil kaum ningrat), dan SI GODAM (wakil buruh besi).

I. ARTINYA “MERDEKA”

A. ARTI SEDERHANA

SI PACUL : Selamat pagi, apa kabar ?

SI TOKE : Terlampau panjang ini Saudara! Sekarang masa perang dan masa berontak, ucapkan yang pendek dan tepat saja: “Merdeka” begitu. Pendek, tepat, dimengerti, dan membangunkan perasaan bertarung. Ucapan yang panjang tadi asalnya dari terjemahan Belanda. Kalau nanti berbaubau Nica, tentu engkau dicari buat dibawa ke Batalyon X.

SI PACUL : Memang saya tak tahu yang demikian itu. Tetapi sudah jadi kebiasaan saja. Di sekolah rendah dipelajari dan memang selalu diucapkan begitu. Tetapi sekarang satu dua kali juga saya ucapkan “MERDEKA” kalau berjumpa pengawalan di jalan-jalan. Tetapi terus terang saja, saya sendiri juga belum tahu betul artinya “Merdeka” itu.

SI TOKE : Cul, saya pun tak paham betul akan arti perkataan itu. Tetapi contoh ini bisa memberi penerangan. Engkau lihat itu burung gelatik. Dia bisa terbang kesana kemari, dari pohon ke pohon mencari makan. Alangkah senang hatinya. Di mana ada makanan di sana dia berhenti makan sambil menyanyi. Kalau hari senja dia pulang ke sarangnya. Itu namanya merdeka. Tak ada kesusahan. Selalu riang gembira.

SI PACUL : Betul senang kelihatan dari luar. Tetapi kelihatan dari luar saja. Belum tentu hatinya sang gelatik sendiri selalu senang. Belum tentu pula burung gelatik itu selalu menyenangkan orang lain. Kemerdekaan semacam itu tak begitu memuaskan.

SI TOKE : Bagaimana tak memuaskan, Cul? Bukankah merdeka seperti burung di udara itu selalu dipuji, selalu diambil sebagai contoh?

SI PACUL : Tadi saya bilang belum tentu hatinya sang gelatik itu selalu senang. Bung Toke memang orang kota, memang punya perusahaan buat hidup sendiri. Tak perlu banyak takut sama ini atau itu. Tetapi bung Toke jangan lupa, bahwa sang gelatik selalu diintai musuhnya. Kucing atau berangan ialah musuh besarnya. Burung elang ialah musuhnya yang lebih besar. Sang manusia pun bisa sewaktu-waktu menangkapnya atau menembaknya.

SI TOKE : Sang gelatik toh bisa lari terbang?

SI PACUL : Ya, memang dia bisa lari terbang. Cuma kecakapan yang diperolehnya dari Alam itu saja yang bisa melindungi jiwanya. Tetapi mana ada adat atas undang-undang masyarakat yang melindunginya? Bahkan, mana masyarakatnya sang gelatik?

SI TOKE : Benar juga Cul. Engkau memang dari desa, yang masih hidup di Alam. Memang di Alam itu undang-undang yang berlaku ialah: Besar hendak melanda. Tetapi dalam masyarakat pun begitu juga, bukan?

SI PACUL : Memang masyarakat kita juga belum sempurna. Tetapi jauh lebih sempurna dari masyarakat burung atau hewan yang lain. Barangkali kita manusia pun tak akan sampai kepada masyarakat yang sempurna. Tetapi kita senantiasa, selangkah demi selangkah bisa menghampiri kesempurnaan ...

SI TOKE : Aku tak sangka kau seorang ahli filsafat, Cul. Rupanya tadi engkau berlaku pura-pura bodoh saja. Tetapi tunggu dulu! Baik kita kembali ke pokok perkara. Engkau sudah terangkan bahwa sang gelatik belum tentu selalu berhati senang, karena musuh selalu mengintai. Tak ada undang-undang atau adat masyarakat burung yang bisa melindungi masing-masing burung. Tetapi engkau belum terangkan, bagaimanakah sang gelatik yang hina papa itu bisa tidak menyenangkan orang lain, bisa mengganggu orang lan?

SI PACUL : Memang rupa sang gelatik itu hina papa. Tetapi kalau satu rombongan saja gelatik itu sampai ke sawah kami, maka mereka itu merdeka pula memusnahkan hasil pekerjaan kami. Dari masa meluku sampai masa menanam padi, dari waktu padi masih hijau kecil sampai kuning matang, kami mengeluarkan jerih payah dan peluh keringat. Sekarang sesudah jerih payah kami memperlihatkan hasilnya datanglah rombongan gelatik yang tidak mengeluarkan keringat setetespun dan susah gelisah sedikit pun atas hasil pekerjaan kami tadi. Tetapi dengan tidak meminta izin lebih dahulu, dan dengan tak malu-malu mereka bersuka ria, bersenda gurau di atas tangkai padi, memilih buah yang matang dan bernas. Bukankah kemerdekaan semacam itu kemerdekaan orang tak berusaha yang merampas hasil pekerjaan orang lain yang mengeluarkan tenaga? Merdeka semacam itu berarti merdeka merampas. Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan liar itu. Apa gunanya “merdeka” semacam itu buat masyarakat manusia?

SI TOKE : Wah, Cul. Ini gara-gara “selamat pagi” apa kabar tadi. Tetapi memperbincangkan arti “Merdeka” itu bukan lagi perdamaian yang aku peroleh dalam hatiku. Memang semua perkara yang engkau kemukakan tadi yang berhubungan dengan “kemerdekaan” itu benar belaka. Sekarang saya sendiri dalam kekacauan pikiran. Aku sendiri mau tahu pula “apa merdeka yang sebenarnya”.

SI PACUL : Marilah kita bertanya kepada mereka yang lebih ahli.

B. ARTI LEBIH DALAM (Definisi)

SI TOKE : Sini, Denmas! Denmas, tuan sudah dengar kami belum lagi mendapat kecocokan tentang arti MERDEKA. Tetapi saya sudah yakin, bahwa MERDEKA itu tidak berarti boleh menjalankan kemauan diri sendiri saja, dengan tiada mempedulikan hak dan kemauan orang lain. Bukankah begitu, Cul, sari perundingan kita tadi.

SI PACUL : Memang begitu. Tetapi siapakah dan bagaimanakah cara membatasi kemauan masing-masing orang? Cobalah Denmas kasih jawab! DENMAS : Memang kemauan liar diri sendiri itu mesti dibatasi. Di zaman Majapahit umpamanya kemauan liar tak terbatas itu dikendalikan ke jalan yang baik oleh raja yang adil dan bijaksana.

SI TOKE : Belum terang benar perkataan Denmas itu pada saya. DENMAS : Artinya dikendalikan itu ialah diarahkan ke jurusan yang benar. Kalau seorang warga negara merusak atau mencuri harta warga yang lain, maka si pencuri tadi dihukum. Dengan begitu dia sendiri dan warga lainnya terbatas atau hilang keinginannya merusak atau mencuri harta orang lain. Lagipula, kalau Negara diserang oleh Negara lain maka raja tadi memerintahkan semua warga yang kuat sehat mengangkat senjata mengusir musuh. Kalau ada warga negara yang kuat sehat itu ingkar, maka ia dihukum pula oleh raja.

SI PACUL : Jadi kalau begitu memang kemauan merusak, mencuri, atau lari kalau musuh datang dibatasi atau dibatalkan oleh raja.

MR. APAL : Tetapi bagaimana kalau raja tadi sendiri mau merusak, memperkosa, dan lari diserang musuh dengan tiada mengadakan perlawanan suatu apa? DENMAS : Raja itu mestinya adil, bijaksana, dan berani gagah perkasa.

SI PACUL : Baik kalau kita mendapatkan seorang Raja semacam itu. Selama ada Raja semacan itu memang negara aman dan makmur. Tetapi bagaimana kalau Raja semacam itu tak ada? Atau kalau adik seorang Raja atau adiknya sebapak tetapi tak seibu lebih adil, lebih bijaksana, dan lebih gagah mau menjadi Raja pula? Tentu timbul perang saudara bukan? Atau kalau Raja itu tak punya keturunan sama sekali, tetapi di antara keluarganya yang dekat atau jauh ada yang berani tetapi zalim, atau ada yang adil tetapi lembek penakut? Siapa yang akan menjadi Raja? Tentu bisa timbul perang saudara pula, bukan?

SI TOKE : Rupanya engkau ini betul seorang ahli filsafat jempolan, Cul. Sokrates sendiri akan bangkit dalam kuburnya mendengarkan pertanyaanmu semacam itu. Memang keadaan begitu sering timbul di zaman Sriwijaya ataupun Majapahit. Di masa itu memang Raja itu seringkali zalim, tetapi tak ada aturan yang membatasi kezalimannya. Raja zalim itu cuma bisa ditukar dengan jalan pemberontakan rakyat. Jadi negara pun kacau. Atau kalau ada pertengkaran di antara para calon Raja, maka masing-masing calon memanggil punakawannya buat perang saudara. Betul di bawah perintah seorang Raja, negara bisa aman sentosa, kalau Raja itu sendiri sempurna dalam segala-galanya dan semua Raja turun-temurun sempurna pula. Jadi keamanan dan kemakmuran negara semacam itu bergantung kepada satu keluarga saja.

SI PACUL : Memang negara aman sentosa kalau keluarga Raja itu sempurna, tak ada celanya. Tetapi celakalah Negara kalau keluarga Raja itu tak sempurna atau jahat.

SI TOKE : Kembali kita sebentar pada pokok perkara. Pertama tadi kita mau mengendali kemauan liar seorang warga negara. Si Pengendali itu kita namai Raja. Tetapi di belakangnya kita lihat bahwa Raja itu manusia juga, acapkali perlu dikendali pula. Memang susah mencari seorang atau serombongan manusia buat mengendali Si Pengendali itu. Jadi apa mestinya yang mesti mengendali kemauan warga negara itu, supaya yang dikendali jangan merusak dan Si Pengendali sendiri jangan merusak pula.

MR. APAL : Sekarang kita sampai ke tingkat yang selama kita berunding ini saya simpan saja dalam pikiran saya. Jadi Si Pengendali yang amat sentosa itu ialah aturan atau undangundang. Undang-undang Negara itulah yang menangkap, memeriksa, atau menghukum seorang warga negara yang dianggap salah. Dengan aturan yang sudah ditetapkan itulah negara mesti diperintah. Aturan memerintah negara itu kita namai Undang-Undang Dasar atau konstitusi.

SI TOKE : Jadi kalau begitu Undang-Undang Dasar itulah yang memerintah, bukan lagi manusia, Undang-Undang Dasar itu lebih tetap dari kemauan seorang Raja atau kemauan keluarga Raja. Boleh dituliskan dan diterjemahkan lebih pasti.

SI PACUL : Tetapi siapa yang mesti membikin Undang-Undang Dasar itu?

SI TOKE : Iya, benar, itu kita mau tahu. Siapa yang berkuasa “berdaulat” buat menentukan Undang-Undang Dasar itu?

MR. APAL : Dengan perkataan lain: di tangan siapakah terletak “kedaulatan” itu? Tadi sudah dibicarakan, bahwa kedaulatan itu tak aman tak tetap kalau ditaruhkan di tangan Raja atau satu keluarga Raja. Sekarang marilah kita periksa di tangan siapa kedaulatan itu harus kita taruh, supaya cara memerintah itu tetap, tak berubah-ubah menurut perasaan seorang Raja, menurut baik atau jeleknya hari, menurut suka atau marahnya Raja itu. Buat itu marilah kita periksa bermacam-macam bentuk Negara. Bentuk yang baiklah yang akan kita pakai.

II. BENTUK NEGARA DAN KEDAULATAN

A. BENTUK NEGARA

MR. APAL : Sebenarnya selama ini sudah kita bicarakan bentuk Negara itu, pada permulaan. Sendirinya kita sampai kepada kedaulatan. Memang bentuk Negara itu banyak berhubungan dengan kedaulatan. Sebelum kita selidiki perkara Kedaulatan lebih baik kita tegaskan dahulu perkara “Bentuk Negara”.

SI TOKE : Saya sering dengar Negara bentuk Kerajaan dan Negara berbentuk Republik. Dalam perundingan kita tadi sudah saya rasa perbedaan kedua bentuk itu, tetapi perbedaan yang pasti memang saya minta tegaskan kepada Mr. Apal.

MR. APAL : Dalam suatu kerajaan tulen, Raja itulah yang mempunyai kemauan tertinggi. Raja itulah yang memberi putusan terakhir. Rajalah yang berdaulat. Tidakkah sering kita baca atau dengar dalam komedi setambul: “Daulat Tuanku?”

SI PACUL : Memang. “Daulat Tuanku” sering pula ditambahtambah dengan “digantung tinggi dan dibuang jauh” kalau tuanku menghendaki!

SI TOKE : Tetapi di mana raja Indonesia itu terbatas kekuasaannya oleh rakyat seperti di Sumatera, maka kita dengar pula: “Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah.” Jadi Raja –terutama di Minangkabau—amat terbatas sekali kekuasaannya.

MR. APAL : Memang kerajaan itu mempunyai beberapa jenis pula. Satu jenis bernama kerajaan tunggal: absolute monarchie. Dalam kerajaan tunggal itu kemauan raja itu tak ada batasnya. Andaikata pagi ini raja itu marah atau cemburu pada seorang gundiknya, maka hari itu juga menterinya dilepas dari pekerjaannya, karena “whim” (buah hati) saja. Atau karena girang gembira mendapatkan selir yang cantik molek, maka Fulan yang tak tahu apa-apa tentang urusan Negara diangkat jadi Menteri, sebab ia sekarang menjadi iparnya Raja. Kerajaan Tunggal itu mudah sekali bertukar menjadi “Kerajaan sewenang-wenang”.

SI PACUL : Balasannya tak lain pemberontakan buat mencari Raja Adil Bijaksana.

SI TOKE : Berapa lama Negara itu beruntung mempunyai seorang Ratu Adil? Seandainya sesudah naik tahta seumur Ratu Adil. Hidup dia terus adil bijaksana, tetapi bagaimana kalau turunannya seorang bangsat atau bodoh?

MR. APAL : Ada pula jenis kerajaan di mana kekuasaan Raja itu amat dibatasi oleh undang-undang. Undang-undang itu dibikin oleh rakyat. Undang-undang itu tak boleh diubahubah oleh siapapun. Jadi Sang Raja berlaku dikendali oleh undang-undang dasar. Keadaan begitu kita dapati di Inggris sekarang dan dahulu kala di Minangkabau. Kerajaan semacam itu dinamai Constitutional Monarchy (Kerajaan terbatas).

SI TOKE : Jadi yang sebenarnya berkuasa pada kerajaan terbatas itu ialah undang-undang dasar. Raja itu cuma satu lambang persatuan saja. Tetapi lambang itu amat mahal. Bukankah rakyat mesti memikul semua ongkos raja dan keluarganya yang sebenarnya kelas nganggur? Apakah tak lebih murah harganya dan tepat-jitu sifatnya kalau undang-undang dasar saja yang memerintah, mengendali Negara?

MR. APAL : Bentuk semacam inilah yang kita sebut sekarang “REPUBLIK”. Dalan suatu republik Raja dan keluarganya itu tak ada sama sekali. Dalam suatu republik Negara itu diperintah menurut undang-undang. Perintah itu terletak di tangan Presiden dan para Menterinya, beserta Sidang Pusat dan Daerah, dan sebagian juga di Mahkamah Tertinggi.

SI TOKE : Saya minta sedikit penjelasan tentang kalimat terakhir ini.

MR. APAL : Seorang ahli filsafat Perancis bernama Montesquieu membagi kerja (function) pemerintahan itu atas tiga bagian : 1. Kekuasaan membikin undang-undang (Legislative Power). 2. Kekuasaan menjalankan undang-undang (Executive Power). 3. Kekuasaan mengawasi undang-undang (Judicial Power). Kekuasaan membikin undang-undang itu ditaruh di tangan sidang perwakilan. Kekuasaan menjalankan undang- undang itu ditaruh di tangan Sidang Para Menteri. Akhirnya pengawasan terhadap Negara membikin dan menjalankan undang-undang itu ditaruh pada Mahkamah Agung.

SI PACUL : Jadi membikin, menjalankan, dan mengawasi undang- undang itu tidak terletak pada satu orang seperti pada raja. Juga tidak pada satu badan melainkan pada tiga badan.

MR. APAL : Memang begitu! Dalam undang-undang dasar Amerika ditegaskan pula, maksudnya tiga pembagian itu ialah buat mengadakan setimbangan (check and balance) dalam pemerintahan Negara. Tiap-tiap bagian itu ditentukan pula kekuasaannya dengan undang-undang dan batas kekuasaannya.

SI TOKE : Apakah tiap-tiap bagian tak akan terlampau merdeka sendiri-sendiri dan menimbulkan kekacauan pula???

MR. APAL : Memang kemungkinan itu ada. Tetapi semua bagian itu dipersatukan dan dikuasai oleh kelas yang terkuasa dalam Negara Republik itu dengan perkakasnya yang dinamai birokrasi. Tetapi baiklah kita diamkan saja perkara ini. Lebih baik kita bicarakan perkara kedaulatan.

B. KEDAULATAN

SI PACUL : Kedaulatan itu sebenarnya apa???

MR. APAL : Kedaulatan itu sebenarnya kekuasaan yang tertinggi, kekuasaan yang memutuskan suatu persoalan. Sovereignity, namanya dalam bahasa asing.

SI TOKE : Jadi kalau suatu undang-undang atau tindakan menimbulkan percekcokan dalam satu Negara, maka kekuasaan tertinggi itulah yang akan menjatuhkan putusan terakhir. Itulah yang terkuasa, yang berdaulat. Memang perkara ini satu perkara yang penting. Seharusnyalah dalam sesuatu Negara ada sesuatu yang memberi putusan terakhir. Tetapi tak pula kurang pentingnya, di tangan siapakah Kedaulatan itu mesti ditaruh?

MR. APAL : Di zaman Kerajaan-Kota memutus itu terletak di tangan raja. Jadi undang-undang itu terletak di ujung lidahnya raja atau di ujung pedangnya saja.

SI PACUL : Benar sekali, bahwa dalam suatu kerajaan, di mana perkataan raja itu adalah satu undang-undang, harta gampang dirampas, kemerdekaan orang gampang diperkosa, dan perempuan orang gampang diambil oleh yang berkuasa.

MR. APAL : Sebab itu menurut dasar republik seharusnyalah kedaulatan itu di tangan rakyat dan pada undang-undang yang dibikin oleh para wakil rakyat. Kalau suatu tindakan menimbulkan kesangsian atas benar atau tidaknya tindakan itu, maka Mahkamah Tertinggi bisa membandingkan tindakan itu dengan Undang-Undang Dasar. Seandainya sesuatu macam ”pajak” yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat menimbulkan kesangsian itu, maka Mahkamah Agung boleh memutuskan cocok atau berlawanankah tindakan itu dengan Undang-Undang Dasar.

SI TOKE : Bagaimana kalau putusan Mahkamah Agung itu sendiri menimbulkan kesangsian pula?

MR. APAL : Dalam hal ini beberapa Negara Republik menaruhkan kedaulatan itu pada Permusyawaratan Rakyat, umpamanya di Swiss. Suara seluruh rakyat dewasa dipungut. Ini dinamai referendum rakyat. Suara terbanyak itulah suara putusan.

SI PACUL : Tiga atau empat juta penduduk Swiss saja tiada mungkin berkumpul pada suatu tempat buat bermusyawarat dan berunding. Apalagi 70 juta rakyat Indonesia, seandainya bisa mereka meninggalkan kota atau desanya masing-masing. Jadi bagaimana mempraktikkan kedaulatan rakyat itu???

MR. APAL : Memang bukan perkara mudah menjalankan referendum itu. Tetapi biasa dijalankan, yakni seperti menjalankan pemilihan juga. Seandainya warga A dalam Republik itu tak setuju dengan tindakan pajak tadi maka ia catatkan saja “tidak setuju” dalam kartu resmi. Kartu itu dimasukkan ke dalam peti umum. Warga B yang setuju, mencatatkan “setuju”. Kalau seandainya di antara 40 juta warga Negara Indonesia yang berhak bersuara, 30 juta tidak setuju dan cuma 10 juta yang setuju, maka undang-undang yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat tadi jadi “batal”, yaitu tak sah.

SI PACUL : Kalau begitu memang rakyat yang terkuasa karena putusan yang terakhir betul di tangan Rakyat Jelata. Gampang tetapi jitu dan tepat teknik memerintah semacam itu.

SI TOKE : Ingin pula saya hendak mengetahui siapa orangnya mengeluarkan pikiran itu yang bermula sekali? Siapa pemikir besar yang menghasilkan paham yang begitu yang berfaedah buat masyarakat manusia?

MR. APAL : Amat susah mengatakan siapa yang sebenarnya “pada awalnya” memikirkan referendum atau “suara Rakyat” itu. Boleh jadi bukan satu orang pada satu waktu saja yang mendapatkan pikiran itu. Boleh jadi pikiran yang bermula keluar itu belum nyata benar, tetapi sudah mempunyai garis besar atau sifat yang pasti. Boleh jadi pula pikiran itu sudah pasti, tetapi cuma pinjaman dari orang lain atau negara lain. Boleh jadi pula pungutan “Suara Rakyat” itu dijalankan begitu saja, bukan sebagai pelaksanaan satu teori atau paham melainkan sebagai “naluri rakyat murba” belaka (political instinct of the masses).

SI TOKE : Bagaimana juga, tentu “Suara Rakyat” sebagai teknik memerintah itu sejalan dengan sempurna atau tidaknya Suara Rakyat itu mempunyai sejarah. Barangkali bukan sejarah menurut kesempurnaannya.

MR. APAL : Memang “Suara Rakyat” itu bukan saja satu teknik yang penting gampang buat suatu pemerintahan. Tetapi Suara Rakyat itu juga menjadi ukuran jauhnya kemerdekaan Rakyat dalam suatu Negara.

SI TOKE : Dengan obor semacam itu cobalah tuan cantumkan secara sederhana “Suara Rakyat” yang berseluk-beluk dengan Kedaulatan Rakyat dan kena mengena dengan kemerdekaan Rakyat itu.

MR. APAL : Saudara sudahkah mendengar nama Min Tze, artinya guru Ming?

SI TOKE : Belum. Tetapi nama guru Kung Cu, yaitu pemikir Tionghoa memang sudah saya dengar. Hidup kira-kira 2.500 tahun lampau.

MR. APAL : Nah, Guru Kung memang seorang pembentuk masyarakat Tionghoa yang terbesar. Negara bentukan Guru Kung berdasarkan kekeluargaan yang dipuncaki oleh Raja dan keluarganya. Muridnya ialah Guru Ming memberatkan kedaulatan itu bukan kepada Raja seperti gurunya, tetapi kepada Rakyat Jelata. Maksudnya Guru Ming lebih kurang, apabila Raja itu zalim maka Rakyat berhak memberontak.

SI TOKE : Jadi bukanlah Rakyat buat Raja, melainkan Raja buat Rakyat. Seperti pepatah Indonesia di atas: Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah.

MR. APAL : Baru saja tahun 1789, jadi lebih kurang 22½ abad di belakang Guru Ming, Jean Jacques Rousseau, di samping Montesquieu, mengeluarkan pikiran yang sama artinya dengan pelajaran Guru Ming tadi. Pengaruh Tionghoa memang terang pada Montesquieu tadi. Dan Rosseau itu dianggap Nabinya Pemberontakan Perancis.

SI TOKE : Indonesia tak perlu lari ke negara asing saja. Indonesia sendiri mempunyai “suara rakyat” itu. Di masa luhurnya Minangkabau, abad 14 sampai l6, Minangkabau berdasarkan kekeluargaan juga: Rakyat ber-raja pada Penghulu Penghulu ber-raja pada Mufakat Mufakat ber-raja pada alur dan patut. Jadi raja yang diakui lebih tinggi dari Penghulu sebagai wakil rakyat ialah kata Mufakat. Tetapi “Kata Mufakat” itu mesti diperoleh dengan perundingan yang merdeka, tenang, dan luas. Putusan yang diperoleh tiadalah takluk pada Kata Raja atau laskarnya, melainkan pada Alur (logika) dan Patut (keadilan). Alur dan Patutlah Raja Tertinggi di Minangkabau pada masa jaya. Maharaja di Minangkabau itu takluk pada Kata Mufakat, pernah disalahkan oleh Mahkamah Agung Minangkabau. Disangka kedaulatan Rakyat Minangkabau semacam itu, yang berupa “suara rakyat” itu diturunkan oleh pemikir “Ketumenggungan”.

III. ISI KEMERDEKAAN

SI TOKE : Kalau sebentar kita meninjau perundingan kita sampai sekarang, nyatalah sudah bahwa “Bentuk dan Isi Kemerdekaan” itu ada dua perkara yang terpisah.

SI PACUL : Apa yang engkau maksudkan dengan “isi” itu?

SI TOKE : Barangkali saya tak salah, kalau yang isi itu ialah “Kedaulatan” tersebut. Rupanya Kedaulatan itu berarti “kemauan” atau “kekuasaan”. Dan pada kekuasaan itulah terletaknya “hak lahir atau batin” dari seseorang atau golongan orang dalam masyarakat.

SI PACUL : Nah kek, sekarang engkau bawa pulang saya ke tempat yang lebih kurang saya ketahui. Engkau tadi menerangkan “isi” kemerdekaan dengan kata yang sudah dikenal seperti kedaulatan, kemauan, dan kekuasaan. Semua perkataan ini cukup kuketahui tetapi anak kalimat “hak lahir dan batin” itu apa pula maknanya.

SI TOKE : Hak lahir ialah hak atas keperluan hidup, seperti makanan, pakaian, perumahan, gaji, dan sebagainya. Hak batin ialah hak buat merdeka berkumpul, berbicara, menulis, hak buat melindungi harta, kemerdekaan, dan jiwa, yang di zaman Revolusi Perancis dinamai “hak manusia”.

SI PACUL : Kalau begitu engkau memberi pemandangan baru pada saya, kek. Hak lahir dan hak batin itu memang tak terlihat pada buntutnya kemerdekaan, yakni bentuk suatu Negara Merdeka. Dalam negara berbentuk kerajaan boleh jadi lebih besar golongan yang berhak (lahir dan batin) daripada dalam negara berbentuk Republik.

SI TOKE : Engkau ini memang cepat memahami suatu paham! Cepat dan tepat bertanya dan melaksanakan! Sekarang aku sendiri tak cukup mengerti apa yang kau maksudkan dengan kalimat di belakang ini.

SI GODAM : Memang petani itu sering mempunyai pikiran sehat segar seperti buah jeruknya.

SI PACUL : Baru sekarang engkau muncul, Godam. Selama ini engkau menonton saja, diam-diam saja engkau pura-pura tak mengerti! Sekarang sesudah sampai ke perundingan perkara “isi” kemerdekaan baru engkau muncul.

SI TOKE : Biarkanlah dahulu si Godam ini. Nanti tentu dia akan muncul terus. Tetapi cobalah tegaskan apa yang engkau katakan tadi, Cul, bahwa dalam sesuatu kerajaan boleh jadi besar golongan yang berhak (lahir dan batin) daripada dalam suatu republik.

SI PACUL : Contoh yang segar-bugar gampang kita kemukakan. Lihatlah Jerman Nazi adalah satu Republik. Tetapi golongan yang paling besar dalam negara (yakni kaum proletar) digencet sehebat-hebatnya. Gaji buruh diturunkan, lama kerja diperpanjang buat menghasilkan alat perkakas perang. Gestapo bermaharajalela buat membasmi kumpulan dan rapat buruh. Cuma sebagian kecil warga negara Jerman (yakni kaum Fasis) yang mempunyai hak lahir dan batin itu. Sebaliknya di Inggris, negara merdeka berbentuk kerajaan, besar golongan yang berhak lahir dan batin itu daripada di Jerman. Gaji lebih tinggi, lama kerja lebih kurang, dan hak berkumpul, berunding, dan menulis lebih luas.

SI GODAM : Ya benar kalau engkau membandingkan satu kerajaan dengan republik semacam itu. Memang bentuk itu tak memastikan isi. Jadi tidak dalam semua kerajaan hak lahir dan batinnya golongan rakyat itu diperkosa. Tidak dalam semua republik sebaliknya hak lahir dan batinnya golongan terbesar itu terjamin.

SI TOKE : Sekarang saya sudah mengerti. Jadi besarnya kemerdekaan dalam suatu negara merdeka itu mesti diukur dengan besarnya golongan orang dalam negara itu yang mempunyai hak lahir dan batin.

SI PACUL : Kalau begitu dalam Negara Merdeka yang selalu dipuji oleh Denmas tentulah kaum yang sedikit itu yang sebenarnya merdeka.

SI TOKE : Engkau jangan menyindir-nyindir, Pacul. Denmas toh bukan absolutis, penganut kerajaan Tunggal. DENMAS : Memang bukan! Tadi si Pacul sendiri sudah memberi contoh bahwa bentuk itu belum memastikan isinya. Bukankah dalam negeri merdeka berbentuk kerajaan seperti Inggris golongan yang mempunyai hak lahir dan batin cukup besar? Pacul sendiri yang memberikan contoh ini!

SI GODAM : Cukup besar tetapi .....................

SI TOKE : Diam dulu, Dam, aku sudah tahu ke mana engkau mau pergi. Cukup besar, tapi sama sekali belum lagi cukup! Bukankah begitu, Dam?

MR. APAL : Sebenarnya, semenjak ahli pikir Aristoteles sudah banyak perubahan isi dalam bentuk negara merdeka, baik berupa Kerajaan maupun Republik. Dalam kitab kuno memang biasa sekali dianggap bahwa dalam satu kerajaan itu raja dan keluarganya yang berkuasa, berdaulat, jadi berhak lahir dan batin. Tetapi sekarang Inggris memberi contoh yang aneh.

SI TOKE : Bagaimana pula buku kuno itu menjeniskan Republik?

MR. APAL : Banyak pula jenisnya Republik itu. Republik itu bisa aristokratis, artinya di sana kaum ningrat yang berkuasa, seperti Republik Sparta di masa lampau. Republik itu bisa plutokratis Di sana kaum hartawanlah yang memegang tampuk kekuasaan, yakni yang sebenarnya berdaulat. Ada pula yang demokratis! Di sini rakyatlah yang berkuasa. Inilah sebenarnya watak Negara Modern yang besar-besar di zaman sekarang. Contohnya yang nyata ialah Amerika Serikat. Di sinilah Rakyat yang berdaulat, berkuasa, yang menentukan baik atau tidaknya Undang-undang, yang memilih dan melepas Presiden, para Menteri, dan wakil Dewan Negara. Di sinilah hak lahir dan batin hampir seluruh masyarakat terjamin.

SI PACUL : Bagaimana, Dam?

SI GODAM : Kapitalisme dan Birokratis! Itu yang berdaulat di semua negara merdeka di dunia ini, berbentuk Kerajaan ataupun Republik, baik plutokratis ataupun demokratis!

IV. BIROKRASI

SI PACUL : Nah, Dam, sekarang rupanya engkau punya giliran. Lebih dahulu aku mau tanyakan. Birokrasi itu sebenarnya apa?

SI GODAM : Birokrasi itu adalah seekor ular berkepala 10, tersembunyi tempatnya dan dengan begitu dia leluasa menyemburkan racunnya ke arah musuhnya.

SI PACUL : Jangan pakai perumpamaan begitu, Dam! Saya mau keterangan yang pasti. Saya sudah banyak kali mendengar kata birokrasi itu. Tetapi artinya yang sebenarnya saya sampai sekarang belum tahu.

SI GODAM : Birokrasi ialah perkakas memerintah dan administrasi yang di zaman kapitalisme menjadi perkakas menindas kaum pekerja. Mulanya biro, kantor itu memang perlu buat satu pemerintah dan satu administrasi. Tetapi lama kelamaan oleh pengaruh kapitalisme menjadi badan yang terpisah dari Rakyat murba dan dipakai sebagai alat penindas semua gerakan murba yang membahayakan kekayaan dan kekuasaan kaum kapitalis yang di zaman kapitalisme memiliki birokrasi itu.

SI PACUL : Sedikit terang. Tetapi belum cukup terang. Cobalah lanjutkan.

SI GODAM : Administrasi tentulah perlu buat satu negara. Sedangkan buat satu perusahaan saja perlu administrasi itu. Dalam satu perusahaan saja, bukankah perlu dicatatkan keadaan pekerja dalam tiap waktu. Umpamanya perusahaan itu mau tahu berapa pekerjanya. Pada permulaan bulan 4 tadi umpamanya 100 orang. Kalau yang masuk di bulan itu 100 orang dan keluar 50 orang, jadi sisa penghabisan bulan empat itu 150 orang. Nama, bagian pekerjaan, umur, asal, keluarga, sekolah dll tiap-tiap pekerja mesti didaftarkan supaya jangan mendatangkan kekacauan. Gajinya berhubung dengan pengalaman, sekolah dan kecakapannya mesti didaftarkan pula. Buat kesehatan, perpindahan, atau kematian, pekerjaannya mesti ada pula pendaftaran yang cukup. Belum lagi perkara hasil atau produksi perusahaan itu: turun naiknya, masuk keluarnya hasil itu. Perkara gaji buruh halus di kantornya! Perkara keuangan, bahan, penjualan, dan bermacam-macam perkara lain buat beresnya satu perusahaan itu saja.

SI PACUL : Satu perusahaan saja sudah begitu banyak cabang pekerjaan dan cabang administrasi. Apa lagi satu negara.

SI GODAM : Apa lagi satu Negara yang mempunyai cacah jiwa sampai puluhan juta, yang turun naik pula penduduknya, yang mempunyai banyak jabatan dalam Pemerintahan Negara seperti jabatan politik Negara, Pertahanan Negara, Perekonomian, Lalu-Lintas, Perhubungan, Keuangan, Penerangan- penerangan, Pendidikan. Berapa banyaknya cabang pekerjaan dan berapa banyak ranting dan lain-lain, dan anak ranting pekerjaan. Susahnya pula, semua ranting mesti dipusatkan ke cabang dan semua cabang dipusatkan kepada bagian dan semua bagian di pusat, dipusatkan pula ke PUSAT Negara seluruhnya.

SI PACUL : Pusing kepala saya memikirkan. Memang pekerjaan itu menjadi sulit kalau didengar begitu saja. Tetapi tidak begitu sulit kalau tiap-tiap ranting cabang dan pusat mengetahui hak dan kewajiban sendiri dan berani tanggungjawab ke atas dan ke bawah. Salahnya, yang di bawah tak berani tanggung jawab dan yang di atas mau memungut semua kekuasaan untuk memutuskan, tetapi sering pula tak berani menanggungjawab putusannya itu. Yang di bawah yang tak berani tanggung jawab itu menanti-nantikan saja putusan dari Atas, sampai di atas bertimbun-timbun perkara yang mesti diputuskan.

SI TOKE : Sampai perkara tetek-bengek mesti diputuskan di Atas, karena yang bawahan tak berani memutus.

SI GODAM : Begitulah administrasi itu menjadi Berat-Kepala (topheady). Lebih berat kepalanya daripada kakinya. Karena semua putusan mesti datang dari atas, maka semua putusan itu terlambat datangnya ke bawah. Tindakan yang mesti dijalankan dengan cepat mesti ditunda karena menunggu putusan atas. Tindakan itu sering terpaksa ditunda selamanya, karena tidak akan berhasil lagi kalau dijalankan juga, sudah terlewat.

SI PACUL : Apakah semua tindakan mesti ditunda buat semua orang dan semua golongan?

SI GODAM : Tentu tidak! Inilah akibat pertentangan dalam dunia kapitalisme. Kesulitan dalam administrasi itu memberi kesempatan pada kaum hartawan buat menduduki administrasi itu. Mereka adakan sekolah menengah dan tinggi buat mendidik anak yang mampu mengadakan dan menjalankan administrasi yang sulit bertingkat-tingkat (hirarkis).

SI PACUL : Anak yang mampu tentulah anak kaum kapitalis.

SI GODAM : Tepat Cul. Dan anak kapitalislah yang memegang buku, sebagai pemegang Staat ini dan Staat itu, yang diatur secara akademis, yang cuma bisa dimonopoli golongan terpelajar, anaknya kapitalis.

SI PACUL : Begitu semua biro, semua kantor itu jatuh ke tangan golongan kapitalis, sudah tentu kantor itu menjadi perkakasnya golongan kapitalis, terutama golongan bankir.

SI GODAM : Tepat, Cul. Dan karena keperluan Kapitalis dan Buruh bertentangan seperti hidup dan mati, sudah tentu semua undang-undang dan tindakan yang menguntungkan kapitalisme lekas dijalankan oleh birokrasi yang dikepalai oleh Menteri Negara. Pendeknya, tuntutan si kapitalis biasanya tiada ditunda. Tetapi semua undang-undang dan tindakan yang merugikan kaum kapitalis dan menguntungkan kaum pekerja tentulah “gampang disabot”, dimogoki, dimogok “sit-down” oleb kaum birokrat, ular tersembunyi dalam administrasi Negara itu.

SI PACUL : Aku mengerti, Dam, kenapa tadi birokrasi itu engkau namai ular berkepala sepuluh. Tetapi saya harap kepalanya bukan 10 melainkan 13.

SI TOKE : Benar, Cul! Memang dia akan celaka 13. Kalau saja kelak wakil kaum buruh mendapatkan suara lebih dan merebut kursi lebih dalam parlemen. Para wakil buruh akan bisa bikin undang-undang buat mengadakan tindakan yang akan melenyapkan, menghancurluluhkan kapitalisme.

SI GODAM : Tunggu dulu Kek! Tunggu dulu! Tak gampang kaum buruh suatu negara merebut kursi lebih dalam parlemen. Sekalipun dapat, tak bisa ia menghancurkan kapitalisme kalau tak dengan pemberontakan. Si Pacul : Nah lho!

V. AKSI PARLEMENTER ATAU AKSI MURBA?

A. AKSI PARLEMENTER

SI PACUL : Nah, Godam, masih dalam giliranmu sekarang. Terangkanlah mana yang baik, aksi parlementer atau aksi murba (aksi massa).

SI GODAM : Saya ulangi sekali lagi. Merebut kursi terbanyak dalam parlemen itu adalah satu perkara yang amat susah, walaupun mungkin.

SI PACUL : Terangkan dulu, apa maksudnya merebut kursi terbanyak itu!

SI GODAM : Umpamanya Parlemen mempunyai wakil rakyat 600 orang! Kalau kaum buruh, yang memang terbesar dalam satu negara modern, mendapatkan wakil dalam pemilihan wakil ke Parlemen umpamanya 301 orang saja dalam teori ia sudah mendapat suara lebih, ialah 2 orang lebihnya dari semua golongan lain, yang 299 itu. Dalam hakikatnya kaum buruh di Inggris, Amerika, atau Jerman memang bisa mendapatkan 2/3 atau 3/4 dari seluruh suara, ialah menurut besar kelasnya proletar, yang ada di negara tersebut.

SI PACUL : Jadi dengan kursi terbanyak itu kaum buruh bisa mengadakan undang-undang dalam Parlemen, buat melenyapkan hak milik perseorangan atas industri penting umpamanya. Industri penting bisa dijadikan milik Negara. Produksi dan distribusi diatur secara kolektif. Semuanya dijalankan secara mengusul dan memutuskan dengan suara lebih dalam Parlemen.

SI GODAM : Benar begitu, tetapi walaupun kaum buruh lebih banyak orangnya, ia kalah saja berteriak dalam pemilihan para anggota Parlemen itu.

SI PACUL : Sebab apa, Dam?

SI GODAM : Sebab yang berteriak memajukan dan memuja-muja para calon wakil itu di zaman kapitalisme ini ialah fulus, uang. Siapakah yang bisa mengirimkan propagandis ke kota- kota dan semua pelosok?

SI PACUL : Tentu kapitalis.

SI GODAM : Siapa pula yang bisa menyewa gedung besar-besar buat rapat umum? Mempunyai persuratkabaran, majalah, radio, sandiwara, buat memuja-muji calon sendiri dan mencemoohkan calon lawan.

SI PACUL : Tentu kaum fulus.

SI GODAM : Kepada kaum mana memihaknya profesor, guru, gereja, dan pujangga dalam negara kapitalis?

SI PACUL : Ya, ya, Dam. Engkau tak perlu lanjutkan. Sebab itu di Amerika negara yang modern dan kapitalis tulen itu, sampai sekarang belum pernah kaum buruh mendapat suara terbanyak dalam parlemen walaupun di Amerika itu sebelum perang besar tetap 11 juta buruh menganggur.

SI TOKE : Di Inggris, sekarang kaum buruh ke 3 kalinya mendapat kementerian Negara. Sekarang Partai Buruh mempunyai suara terbanyak pula dalam Parlemen Inggris.

SI GODAM : Yang ketiga kalinya pula partai kaum buruh Inggris akan memperlihatkan kepada proletar Inggris dan dunia lain, bahwa mengadakan undang-undang buat melenyapkan kapitalisme Inggris itu bukanlah perkara menghitung “suara” atau “kursi” dalam parlemen saja. Memang menurut Karl Marx, mungkin sosialisme dijalankan di Inggris dengan jalan parlementer itu. Tetapi di masa Marx, birokrasi Inggris belum begitu kuat, licik, dan ganas seperti di abad ke 20 ini.

SI TOKE : Kalau undang-undang penghapusan kapitalisme sudah diterima dalam Parlemen, maka administrasi yang dikepalai Perdana Menteri Sosialis toh boleh perintahkan kepada administrasi untuk menjalankan penghapusan kapitalisme itu.

SI GODAM : Dalam teori memang begitu. Tetapi jarang manusia yang menghukum mati dirinya sendiri itu. Administrasi itu seperti sudah dibilang di atas dipegang oleh keluarga borjuis, pengikut kaum kapitalis. Semua otak hati jantungnya serta pengalamannya sudah dipusatkan pada Arsip Raja, dalam gedung administrasi itu. Orang lain dari golongan lain susah memasuki gedung arsip yang penuh rahasia itu. Berbenteng pada arsip rahasia itu sang jurutulis gampang mengadakan pemogokan atau sabot terhadap perintah menteri sosialis. Berbenteng pula pada arsip-gaib-rahasia itu sang jurutulis, sang komis kelas satu, kelas dua ... sampai tiga belas. Berhubungan pula dengan polisi, kehakiman, tentara, dan terutama dengan bank negara dan bank partikelir. Di zaman kapitalisme ini bank itulah yang menjadi bentengnya kapitalisme, bank itulah yang mengendali perindustrian di dalan negeri dan akhirnya mengendalikan politik negara.

SI PACUL : Jadi sekarang terang kedudukan kekuasaan dalam negara kapitalis itu buat saya, Dam. Kaum kapitalis yang mempunyai benteng lahir pada golongan bankir, mempunyai tukang sulap yang tidak kelihatan pula dalam administrasi, berupa birokrat. Kalau wakil borjuis kalah dalam parlemen ia minta bantuan pada tukang sulapnya, ialah sang birokrat dalam administrasi. Kalau di sini ia kalah pula, ia baru minta bantuan pada polisi, yustisi, dan tentara. Mereka opsir tinggi dari polisi, yustisi, dan tentara itu tentulah anak kaum mampu, yakni kaum borjuis, maka tentulah pula polisi, yustisi, dan tentara –semua badan pembela keamanan negara itu—pembela negara kapitalis. Tegasnya dalam pertentangan Kapitalis-Proletar tentulah polisi, yustisi, dan tentara itu membantu kapitalis dan membasmi proletar.

SI GODAM : Begitu mestinya, Cul! Pada semua pergerakan murba, maka terang benar birokrasi menjadi perkakas kapitalis menindas semua gerakan yang menentang kapitalisme. Begitu di semua negara Eropa. Berhubung dengan itu maka 100 tahun lampau Marx dalam salah satu bukunya yang banyak mengandung sejarah sudah berkata: “Staat itu tak boleh diambil oper begitu saja oleh kaum buruh (revolusioner), tetapi mesti dihancurkan dan diganti dengan administrasi kaum buruh.” Yang dimaksud dengan staat itu, dengan Negara itu, tentulah terutama juga administrasi dan birokrasi tadi.

SI PACUL : Kalau parlemen dan aksi parlementer itu tak boleh dipakai, dan administrasi bersama birokrasinya tak boleh diambil oper begitu saja, bagaimana jalan menghapuskan kapitalisme itu??

SI GODAM : Sekarang kita sampai kepada aksi murba. Memang engkau sebagai wakil proletar tani tertarik ke jalan massa-aksi itu. Tetapi tak mengherankan pula kalau Denmas, Mr. Apal, dan si Toke, burger kecil ini menguap-nguap saja, seperti orang tak peduli.

B. AKSI MURBA

SI GODAM : Aksi murba itu tentulah mengandung beberapa syarat yang penting pula. Sudahlah tentu perkara kalah menang mesti dipikirkan.

SI PACUL : Sudah mestinya kekuatan lahir dan batin yang ada pada lawan kita mesti dibandingkan dengan kekuatan lahir dan batin yang ada pada kita. Seharusnya para pemimpin murba itu tak boleh menyia-nyiakan ribuan jiwa yang diserahkan pada pimpinannya.

SI GODAM : Semestinya kita tidak takut berkorban. Tetapi semestinyalah pula kita tiada boleh berkorban sia-sia. Tiap-tiap tetes darah mengalir, mestinya mendapatkan hasil yang seimbang.

SI PACUL : Kemenangan itu tentulah berupa kemenangan politik dan ekonomi.

SI GODAM : Selain perkara perbandingan kekuatan, mesti pula dipikirkan perkara “tempo dan tempat”. Pada waktu musuh sedang kuat, dan kekuatannya terpusat pula pada suatu tempat, sudahlah tentu kita bodoh sekali kalau menyerang dengan kekuatan kurang, pada “tempo dan tempat” yang baik buat musuh itu.

SI PACUL : Sekurangnya kita mesti tambah tenaga dan susun lebih baik lagi tenaga yang sudah ada. Selain dari itu kita mesti tunggu pula tenaganya musuh yang terpusat itu dicerai-beraikan. Atau tunggu temponya musuh sedang lengah.

SI GODAM : Jadinya, pendek kata carilah gelang yang lemah pada rantai pertahanan musuh. Putuskan rantai itu dan musnahkan tiap-tiap bagian yang lemah itu!!

SI PACUL : Apa lagi yang mesti diperhatikan?

SI GODAM : Memang banyak lagi. Syarat yang penting buat seorang pemimpin –pemimpin apapun juga—ialah pemimpin itu pertama mesti mempunyai kecakapan memimpin. Kedua dia mesti bisa menaksir keadaan sekarang dan besoknya; dan ketiga dia mesti ulet, tidak lekas patah hati, melainkan mempunyai kemauan baja. Ia tak boleh diombangambingkan oleh kemenangan dan kekalahan sementara, melainkan tetap pegang teguh hasratnya berjuang dan kebenaran alasannya buat berjuang. Ketetapan hati itu mesti tergambar di wajahnya kalau berhadapan dengan pengikut dan teman seperjuangannya, apalagi dalam marabahaya.

SI PACUL : Memang pemimpin yang tak melihat garis besar gerakan politik, tak mempunyai hasrat, kemauan, dan iman teguh tak akan bisa mengendalikan pengikutnya, apalagi mengendalikan keadaan.

SI GODAM : Pimpinan mesti mempunyai sumber yang terus mengalir. Artinya itu ia tak boleh pegang satu teori saja kalau menyerang atau mempertahankan. Dia mesti cakap mengadakan muslihat baru pada keadaan baru. Pelajaran yang dihafalkan dari buku saja tiada cukup.

SI PACUL : Jadi engkau sudah majukan: 1. Perkara perhitungan kalah-menang (perbandingan kekuatan), 2. Perkara tempo dan tempat, 3. Syarat pemimpin dan pimpinan, 4. Sumber yang terus mengalir di pihak pimpinan. Apakah persatuan tidak penting???

SI GODAM : Penting sekali, Cul. Itulah jiwanya suatu perjuangan. Walaupun syarat yang empat tadi ada, tetapi kalau persatuan dalam barisan yaag dikerahkan itu lemah atau tak ada sama sekali, sudahlah tentu tak ada harapan buat menang, kecuali kalau lawan itu lebih lemah lagi dalam segala-galanya. Tetapi persatuan itu mesti mempunyai dasar yang teguh.

SI PACUL : Bukannya disiplin dasar yang teguh itu?

SI GODAM : Betul, disiplin adalah satu syarat atau dasar persatuan itu, tetapi disiplin itu sendiri mesti berdasar pula.

SI PACUL : Apakah pula dasarnya disiplin itu?

SI GODAM : Inilah perkara yang penting dalam Aksi Murba. Dalam aksi militer, disiplin itu semata-mata berdasar atas perintah yang kuasa saja. Tetapi dalam Aksi Murba, disiplin itu mesti dimengerti dan dirasa. Jadi dasarnya ialah keperluan bersama, kepentingan bersama di pihak murba. Atas keinsyafan sama kepentingan, sama tujuan, dan sama berjuang itulah dirasa perlunya disiplin. Artinya disiplin dalam aksi murba ialah dengan sejujur-jujurnya dan sebaik-baiknya menjalankan suatu putusan, yang sudah diputuskan bersama-sama menurut suara yang terbanyak.

SI PACUL : Tetapi toh tidak sama keperluan tani, buruh, saudagar, dan penduduk kota?

SI GODAM : Tepat perkataanmu itu, Cul. Betul tidak sama tetapi ada persamaan. Kucing memang tidak sama dengan macan, tetapi banyak persamaannya. Lebih banyak persamaan kucing dan macan daripada antara kucing dan ikan atau kucing dan tongkat.

SI PACUL : Jangan filsafat, Dam! Bentangkanlah persamaan yang praktis!

SI GODAM : Persamaan dari masing-masing orang kelas proletar tentulah nyata. Mereka sama ditindas dengan cara yang sama. Mereka sama-sama menghendaki perubahan yang sama pula. Lebih mudah mengadakan persatuan dan disiplin di antara satu kelas manusia itu. Persatuan dan disiplin bisa didasarkan pada keperluan sama, yakni sama-sama menuntut hak lahir dan batin (gaji, lama kerja, hak berkumpul dan rapat).

SI PACUL : Tetapi di manakah letaknya persamaan keperluan tani, buruh, dan penduduk kota?

SI GODAM : Baik, saya ambil contoh yang tepat saja, Cul. Ambil Rusia di tahun 1917. Susunan masyarakat di masa itu: Di puncak ada Tsar dengan keluarga ningratnya yang memiliki tanah luas-luas sekali. Yang mengerjakan tanah itu ialah tani melarat. Tani melarat itu terbagi pula atas 3 golongan. Kesatu yang hidup memburuh sama sekali; kedua setengah memburuh dan setengah bertani; dan ketiga tani yang membanting tulang buat hidup cukup saja. Ketiga golongan itu revolusioner terhadap Tsar. Selain tiga golongan tani melarat ini ada lagi tani sedang. Tani ini memakai buruh sampai 10 orang. Tetapi masih mau perubahan demokratis. Begitu juga tani besar. Selain tani, ada lagi kelas borjuis besar, tengah, dan kecil. Semuanya menghendaki hak demokratis (perwakilan rakyat dsb). Kelas yang paling terkemuka dalam pemberontakan ialah buruh-industri.

SI PACUL : Bagaimana kaum komunis mengadakan persatuan di antara borjuis, tani, dan proletar itu?

SI GODAM : Itulah keulungan komunis Rusia. Dia tahu bahwa kaum borjuis besar revolusioner terhadap feodalisme, keningratan di bawah Tsar. Selama menentang Tsar dan kaum ningrat itu mereka bikin satu barisan rakyat. Jadi di masa ini persatuan itu mengikat borjuis besar-tengah-kecil, tani besar-tengah-kecil, dan proletar, sampai feodalisme terbengkalai. Baru sekarang ditantang dan dibengkalaikan borjuis besar-tengah-kecil. Akhirnya, tinggalah persatuan kekal antara proletar mesin dan proletar tanah.

SI PACUL : Jadi pada tiap-tiap tingkat pertarungan itu dicari persamaan tuntutan berdasarkan persamaan keperluan. Apakah persamaan tuntutan proletar mesin dan proletar tanah?

SI GODAM : Kedua golongan menghendaki perdamaian. Jadi mereka sama-sama meletakkan senjata menghentikan berperang dengan Jerman. Selanjutnya para proletar pabrik merebut pabrik, dan kaum borjuis dan proletar tanah merebut tanah dari kaum ningrat. Dengan begitu proletar dan tani sama sama menentang kontra-revolusioner dari pihak borjuis dan ningrat.

SI PACUL : Jadi kalau saya mengerti betul, Dam, Komunis Rusia pada tiap-tiap tingkat perjuangan memusatkan pukulannya terhadap satu musuh saja. Dalam hal itu dia menjaga persatuan dalam barisannya sendiri, walaupun terdiri dari berbagai golongan.

SI GODAM : Itulah keulungan Komunis Rusia, Cul!

VI. MERDEKA 100%

SI TOKE : Apa yang dimaksudkan dengan merdeka 100%? Buat saya merdeka itu merdeka tak ada batasnya.

SI GODAM : MERDEKA itu memang selalu ada batasnya. Batasnya itu pertama terhadap ke dalam. Kedua terhadap keluar.

SI TOKE : Apa artinya?

SI GODAM : Terhadap ke dalam! Bukankah tiap-tiap orang dalam negara merdeka itu mesti menghargai kemerdekaan tiaptiap warga lain? Jadi tiada boleh berbuat sekehendak hatinya saja terhadap warga sejawatnya. Di sinilah terletak batasnya.

SI PACUL : Kalau begitu terhadap keluar: tiap-tiap negara merdeka mesti pula mengakui kemerdekaan tiap-tiap Negara Merdeka yang lain, besar atau kecil. Berapa pun kuatnya satu negara merdeka tidaklah dia bisa berbuat sekehendak hatinya saja terhadap negara lain. Dengan begitu maka kemerdekaan satu negara terletak pula pada kemerdekaan negara lain, jadi arti luasnya pada suasana kemerdekaan umumnya.

SI GODAM : Tepat, Cul! Kalau suasana kemerdekaan itu dalam arti umum terganggu, maka lambat laun akan hilang kemerdekaan tiap-tiap negara. Lihatlah contoh di sekitar kita dan dalam sejarah dunia! Berapapun kuat satu Negara Merdeka, yang memperkosa kemerdekaan negara lain akhirnya ia jatuh juga!

SI TOKE : Kalau satu negara merdeka mesti menghargai kemerdekaan negara lain pula tentu satu warga negara merdeka mesti pula menghormati warga negara lain sebagai tamunya. Bukankah begitu?

SI GODAM : Sebenarnya begitu! Di sana teranglah sudah bahwa kemerdekaan manusia itu mengandung “perdamaian” buat seluruh manusia. Perdamaian itulah dasar kemakmuran. Akhirnya kemakmuran itulah pula yang menjadi dasar kemerdekaan.

SI PACUL : Memang kemerdekaan, perdamaian, kemakmuran itu berseluk-beluk. Tetapi kalau kubiarkan engkau melanjutkan perundingan tentang kemerdekaan itu secara begitu, aku takut kita akan selangkah demi selangkah kau bawa ke ‘jurang’ filsafat. Baiklah kita kembali ke tanah yang datar. Berilah contoh yang pasti (konkret) tentang batas kemerdekaan itu.

SI GODAM : Pertama batas itu boleh berupa daerah. Kemerdekaan Spanyol amat terbatas karena Inggris menduduki Karangbatu bernama Gibraltar buat dijadikan benteng. Ini berarti satu pistol mengancam dadanya Spanyol. Begitu pula Terusan Suez, Tanah-Asing di Shanghai dan lain-lain.

SI PACUL : Walaupun daerah itu kecil, tetapi ia amat menguasai politik ke dalam dan ke luar Negara yang diduduki. Apalagi batasnya?

SI GODAM : Batas yang terang tentulah berhubung dengan pembatasan kedaulatan. Tentulah tak ada Negara yang merdeka dalam arti liar. Di atas sudah disebutkan batas tiap-tiap Negara Merdeka itu ke dalam dan keluar. Tetapi itu berlaku buat tiap-tiap negara, dimengerti dan dirasa perlunya oleh tiap-tiap Negara. Tetapi status (kedudukan dalam politik) seperti Dominion Status, Free-State (Irlandia) atau Gemeenebest yaag didengung-dengungkan oleh Belanda itu adalah batasan pincang.

SI PACUL : Sebenarnyalah begitu. Karena Indonesia yang digemeenebest- kan oleh Belanda itu tiadalah meng-gemeene-kan Belanda. Jadi batas itu berlaku buat Indonesia saja. Seolaholah Indonesia kurang dari Belanda.

SI GODAM : Apalagi kalau suatu Negara Merdeka mencampuri administrasinya Negara lain. Keadaan ini terjadi pada semua jajahan. Hal ini tak perlu dilanjutkan. Indonesia sudah tahu bahwa urusan administrasi dari desa sampai ke daerah, ke pulau, dan akhirnya sampai ke semua kepulauan, hingga 17 Agustus 1945 dicampuri oleh Belanda.

SI PACUL : Jadi batasan pasti yang sudah engkau sebutkan ialah: batasan daerah, batasan kedaulatan, dan batasan administrasi. Tidakkah ada batas-batas yang lain-lain?

SI GODAM : Secara lahir tidak-ada lagi. Tetapi secara tertutup ada. Sudahkah engkau mendengar nama-nama Negara Merdeka seperti Meksiko, Honduras, Kuba, Peru, Brasil, juga Tiongkok sebelum Perang Dunia kedua ini?

SI TOKE : Semua negara itu memang Merdeka. Semua negara itu mempunyai Undang-Undang Dasar sendiri dan merdeka memilih dan memecat pemerintahnya sendiri. Selain itu juga merdeka menentukan politiknya ke luar negeri.

SI GODAM : “Rupanya” begitu dipandang dari luar. Ambil saja Meksiko sebagai contoh. Selama pemerintah Meksiko mengakui keleluasaan kongsi minyak Inggris-Amerika di Meksiko, selama itu pula ada pengakuan penuh dari Inggris- Amerika. Tetapi coba timbul pemerintahan Meksiko yang menentang kongsi minyak itu. Sebentar saja timbul revolusi dari golongan Meksiko juga, yang disokong oleh kongsi minyak. Satu jenderal Meksiko diadu dengan jenderal Meksiko yang lain. Barangkali kedua jenderal itu cinta pada Negara dan Rakyatnya. Tetapi mereka sadar atau tidak, gampang dibelit oleh “lasso” (tali pengikat) yang ujungnya berada di kantor pusat kongsi minyak di Amerika yang tentu berhubungan pula dengan birokrasi Amerika. Demikianlah semua pemberontakan di Amerika Tengah dan Selatan, seperti juga dahulu di Tiongkok disebabkan oleh pengaruh busuk kapitalisme asing yang bersarang di Negara yang menurut syarat Undang-Undang Internasional memang merdeka.

SI PACUL : Jadinya kapital-asing itu kalau ditanam begitu saja dalam suatu Negara Merdeka bisa mengacaukan politik Negara Merdeka itu. Bisa mengadudomba sebagian penduduk terhadap bagian lain dari penduduk Negara itu juga.

SI TOKE : Jadinya kita tak perlu kapital-asing? Bukankah Indonesia tak cukup mempunyai mesin dan uang buat mengganti mesin yang sudah rusak dalam peperangan sekarang dan buat menambah mesin yang baru???

SI GODAM : Sebenarnya kita membutuhkan mesin, bahkan juga beberapa ahli. Malah kita membutuhkan berlipat-ganda mesin dan para ahli asing buat mendirikan perindustrian baru dan memperbaiki yang lama. Berapa puluh lokomotif, mesin kapal dan kapal terbang kita butuhkan. Lebih dari itu, tidak saja mesin yang sedia buat dipakai kita perlukan. Tetapi juga mesin yang membikin mesin. Kita perlukan mesin yang akan membikin mesinnya oto, membikin lokomotif, membikin mesin kapal air dan udara, membikin meriam, tank, bom-atom dll, pendeknya “mesin-induk”. Berhubung dengan itu kita perlukan pula para ahli yang kita belum punya.

SI TOKE : Bingung aku mendengarnya. Tetapi di samping itu bukan main girang hatiku mengelamunkan “Indonesia punya atas Mesin-Induk” itu, mempunyai “Industri Berat” itu. Tetapi uangnya???

SI GODAM : Uang tak perlu! Tetapi yang perlu ialah KEMERDEKAAN 100%. Sekali lagi! Uang sebagai kapital-asing tak perlu. Malah membahayakan dan tidak membawa Indonesia ke arah yang kita tuju.

SI TOKE : Sekarang saya bertambah pusing Dam. Membahayakan bagaimana? Tidak membawa kita ke tempat yang kita tuju bagaimana?

SI GODAM : Membahayakan dan tiada menyampaikan maksud, seperti terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Kek. Sekarang Amerika Tengah dan Selatan tak bisa bikin mesin apalagi bikin mesin-induk. Pengaruh kapital-asing di Amerika Tengah dan Selatan tak membenarkan sekalian Republik Merdeka itu mempunyai dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat. Sebab kapital-asing itu takut akan persaingan. Takut kalau-kalau kelak industri berat di Amerika Tengah dan Selatan menyaingi atau membunuh industri berat atau ringan negara yang meminjamkan modal. Karena pemerintah Negara di Amerika Tengah dan Selatan terikat oleh uang pinjaman dari Inggris-Amerika, dia tak bisa mengambil tindakan yang tepat buat mendirikan Industri Berat Nasional.

SI TOKE : Baiklah kita tinggalkan dahulu Amerika Tengah dan Selatan itu. Kau bilang tak baik kalau kita menerima modal asing. Baik! Kita butuhkan Industri Berat. Tetapi uang dari mana kita ambil? Para ahli ke mana kita cari di antara bangsa Indonesia?

SI GODAM : Uang? Bukankah minyak tanah kita, arang kita, timah kita, aluminium kita, intan-mas kita, perak-mutiara kita semuanya uang??? Engkau ini seorang toke. Apakah kertas yang kau lipat-lipat itu yang dicetak oleh Jepang sampai 40.000.000.000 dalam 3 tahun itu yang uang??? Bukankah beras, intan berlian, dan mesin yang diangkutnya ke Tokyo dulu yang sebenarnya uang??? Kertas itu cuma wakil dari barang. Kertas itu sendirinya hampir tidak ada harganya. Belum lagi kusebut barang yang berharga seperti teh, kopi, kina, kelapa, gula, getah, dan banyak lagi yang tidak dipunyai Negara lain dan amat dibutuhkan Negara lain.

SI PACUL : Aku tahu maksudmu, Dam! Semua hasil dari dalam dan atas tanah Indonesia ditambah pula dengan hasil lautnya yang kaya raya itu akan kau kirimkan keluar negeri buat “ditukarkan” dengan mesin dan para ahli, dan kalau perlu tentu juga dengan “uang asing”.

SI GODAM : Tepat, Cul! Para ahli itu tidak berada di Amerika saja. Atau di Inggris saja. Di Swedia, Swiss, atau Jerman juga ada. Mereka akan ingin bekerja-sama dengan Republik Indonesia Merdeka. Bukan seperti tuan besar, melainkan sebagai pegawai yang menerima perintah.

SI TOKE : Tetapi kalau engkau membikin industri baru seperti tambang besi, pabrik besi baja dan mesin industri muda, barangkali layu dan mati kalau kelak disaingi oleh barang besi-baja dan mesin dari Eropa dan Amerika. Mereka bermodal besar, tahan bersaing. Mereka berpengalaman. Barangnya murah dan baik!

SI GODAM : Itulah dia Kek! Bayi manusia, walaupun tegap-kokoh mesti dilindungi dahulu dalam beberapa tempo. Begitu pun tumbuhan dan hewan. Itu sudah hukum alam. Pun dalam ekonomi, undang-undang itu berlaku. Dalam ilmu ekonomi namanya itu “perlindungan industri bayi” (protection on infant-industry). Amerika sendiri masih mempunyai cabangindustri yang dilindungi.

SI TOKE : Bagaimana melindungi industri bayi kita itu?

SI GODAM : Mesin atau barang yang sedang kita bikin itu mesti kita batasi masuknya dari luar negeri atau kalau perlu larang sama sekali masuknya. Tentu pada permulaan kita belum bisa membikin semua mesin atau baja yang kita butuhkan. Jadi barang ini masih perlu dimasukkan dari luar. Tetapi dibatasi banyaknya. Cuma buat menambah yang masih kurang saja. Supaya yang perlu dimasukkan itu jangan menjadi saingan buat industri bayi kita, maka mesin atau besi yang masuk itu mesti dipajaki sampai tak bisa merusakkan kemajuan industri kita. Kalau perlu dilarang sama sekali masuknya.

SI PACUL : Buat membatasi masuknya barang asing itu atau melarang masuknya sama sekali kita mesti 100% merdeka buat menguasai keluar-masuknya barang di Indonesia (ekspor dan impor).

SI GODAM : Tepat, Cul! Merdeka 100%! Kalau kita sudah merdeka 100% buat menguasai keluar masuknya barang asing itu, maka barulah kita bisa merdeka 100% menentukan “ARAH” industrialisasi di Indonesia, yakni menuju ke INDUSTRI BERAT seperti kilat. Baru sesudah kita mempunyai dan sanggup menyelenggarakan industri berat, baru kita bisa membikin sendiri alat kemakmuran dan alat pertahanan (seperti meriam, tank, kapal selam - terbang dsb). Barulah pula bisa dijamin Kemerdekaan Indonesia. Selama Indonesia belum mempunyai Industri Berat, selama itu pula INDONESIA MERDEKA terancam sangat Jiwa Kemerdekaannya.

SI TOKE : Rupanya engkau tak mengizinkan sama sekali masuknya kapital-asing dan barang asing?

SI GODAM : Barang asing bisa masuk dan akan tetap bisa masuk. Harapanku sampai hari kiamat kita makin makmur, makin membutuhkan barang asing yakni hasil istimewa di negara asing. Malah modal asing bisa ditanam di sini buat membikin barang yang belum bisa kita bikin sendiri dan tak membahayakan perindustrian, kemakmuran, dan pertahanan Kemerdekaan kita.

SI PACUL : Apa salahnya kalau Tionghoa membuka toko menjual sutera Shantung yang halus yang tak ada pada kita itu. Apa salahnya Tionghoa membuka pabrik sutera di samping pabrik sutera Indonesia? Apa salahnya Tionghoa memasukkan uangnya, sebagai andil dalam perusahaan Indonesia, asal saja terbatas banyaknya? Apa salahnya Jerman mendirikan pabrik Pilsener Bier yang lezat-sehat itu? Atau apa salahnya kawan kita dari Rusia membuka toko menjual kaviar yang sedap sehat itu?

SI GODAM : Yang menjadi ukuran buat semua-mua itu ialah: Rakyat Indonesia jangan terancam kemerdekaan dan kemakmurannya. Bangsa tamu tetap aman dan makmur. Lama kelamaan dengan jalan yang cocok dengan undang-undang dan adat istiadat Indonesia bangsa tamu lebur menjadi rakyat Indonesia yang taat setia kepada Negara Rakyat dan Undang-Undang Indonesia.

SI TOKE : Kaubilang tadi kalau Indonesia Merdeka 100% maka secepat kilat kita bisa menuju ke arah Industri Berat. Bukankah majunya industri itu tak bisa kita perkosa?

SI GODAM : Tak ada sesuatu yang akan kita perkosa, Kek! Kita cuma percepatkan jalannya sesuatu yang bergerak menurut kodratnya sendiri. Kita tahu air itu baru mendidih kalau panasnya sudah sampai kurang lebih 100 derajat. Tetapi derajat setinggi itu baru kita peroleh sesudah dimasak satu jam umpamanya kalau apinya lemah. Tetapi dengan listrik yang tinggi derajatnya bisa kita peroleh dalam beberapa menit saja.

SI PACUL : Perbandingan lagi, Dam! Langsung tepat saja, Dam!

SI GODAM : Kembali pada perindustrian kita! Memang kalau kita biarkan “perseorangan” bermaharajalela dalam perekonomian kita, barangkali 100, 200, atau 500 tahun pun kita takkan sampai ke tingkat Industri Berat Nasional. Tetapi dengan “Rencana” menurut “HUKUM EKONOMI TERATUR” dalam sepuluh tahun saja kita bisa sampai ke tingkat yang mengagumkan.

SI PACUL : Asal pemerintah tetap Merdeka 100% dan rakyat bersatu! Pimpinan tetap tegap, percaya atas diri sendiri dan tetap jujur terhadap rakyat jelata. Pasal bahan memang tak ada yang kurang di Indonesia, baik sebagai “jasmaninya kemesinan” seperti besi aluminium, bauksit dll, baik sebagai “rohaninya kemesinan” (seperti arang, listrik, dan minyak). Mengenai bahan, Indonesia ini, apalagi Indonesia Raya tak kurang dari Negara manapun di bawah kolong langit ini.

SI TOKE : Dam, coba bentangkan “RENCANA” buat Industrilisasi kilat itu!

SI GODAM : Maaf, Kek! Terlampau panjang dan terlampau sulit, kalau kubentangkan di sini. Baiklah kubentangkan nanti dalam brosur istimewa pula! Sekarang baiklah kita meninjau kembali ke belakang, buat membulatkan perundingan.

VII. KEMERDEKAAN DITINJAU KEMBALI

SI PACUL : Cobalah, Dam, engkau berikan beberapa kesimpulan dari perundingan kita sampai sekarang.

SI GODAM : Kesimpulan apa yang mesti kuberikan, Cul! Aku sendiri sudah bingung dibawa ke sana kemari dalam perundingan yang sulit dan panjang itu.

SI TOKE : Seadanya saja. Simpulkan apa yang kau rasa penting saja.

SI GODAM : l) Kemerdekaan itu bukanlah Kemauan Tunggal orang atau negara, melainkan kemauan Terikat (bukan absolut melainkan relatif). Kemerdekaan itu sendiri mestinya berdasarkan pengakuan atas kemerdekaan pihak lain. Sebaliknya kemerdekaan di pihak kita diandaikan atas pengakuan pihak lain terhadap kemerdekaan sendiri. Apabila berkenaan satu sama lainnya itu terganggu, maka kemerdekaan itu tak akan kekal adanya. Dengan adanya pengakuan atas terikatnya kemerdekaan itu satu sama lain, maka kemerdekaan itu menjadi rasional, masuk diakal, berakal. 2) Sudah berabad-abad pemikir semua bangsa memikirkan bentuk Negara yang bisa menjamin kemerdekaan itu. Tetapi bentuk saja tiadalah memberi jaminan kepada kemerdekaan itu. Ada di antara bentuk Republik yang memberi jaminan kemerdekaan lebih daripada beberapa bentuk kerajaan (Rusia di zaman Republik Soviet dibanding dengan Rusia Tsar). Tetapi ada pula bentuk kerajaan yang memberi jaminan kemerdekaan lebih daripada bentuk republik (Kerajaan Inggris dibandingkan dengan Jerman-Nazi). Tetapi nyata sudah, bahwa Republiklah bentuk yang lebih cocok buat menjamin kemerdekaan. Kerajaan- terbatas sebagai bentuk negara adalah keistimewaan sejarah, sebagai sisa yang terpaksa diteruskan saja. 3) Isi kemerdekaan itu ialah kedaulatan, dan kedaulatan itu ialah berupa kekuasaan dan kemakmuran. Pertanyaan tentang “siapakah atau golongan siapakah yang berdaulat pada satu negara merdeka” mesti dilaksanakan atas pertanyaan “siapakah atau golongan manakah yang sebenarnya memegang kekuasaan dan mengecap kemakmuran dalam negara itu”. Dipandang dari penjuru ini maka “demokrasi” yang dibangga-banggakan negara kapitalis itu, kalau diteropong besarnya golongan atau kelas yang sebenarnya memegang kekuasaan dan merasakan kemakmuran itu tiadalah sepadan dengan namanya “kedaulatan rakyat”. Yang benar berkuasa, makmur, dan tenteram kemakmurannya ialah kaum kapitalis, kaki tangannya akal kaum tengah dan sebagian kecil dari proletar atasan. Sebagian besar dari mereka yang tak berpunya itu diombang-ambingkan oleh krisis ekonomi dan peperangan imperialisme. 4) Dalam suasana kemodalan, maka hak pemilihan secara umum, langsung, dan sama itu, ataupun suara rakyat (referendum) tiadalah bisa membayangkan kemauan kelas proletar yang terbanyak itu. Kaum borjuis yang sedikit itu dengan harta perusahaan dan profesor, agamawan dan radionya bisa menukar yang putih menjadi hitam, yang salah menjadi benar. Kaum borjuis bisa merebut suara. Seandainya partai proletar bisa merebut kursi terbanyak dalam parlemen, dan bisa mengadakan undang- undang sosialistis, partai itu akan tergelincir dalam birokrasi kaum borjuis, atau akan tertumbuk pada polisi, justisi, dan tentara yang dipimpin oleh borjuis itu, kalau undang-undang itu dijalankan. 5) Yang berhak menentukan nasib Rakyat Indonesia ialah kemauan, pelor, atau bambu runcingnya Rakyat Indonesia sendiri. Hak Rakyat Indonesia atas kemerdekaan itu diambilnya dari alam yang didudukinya. Ia hidup atau tenggelam dengan alamnya itu. Selama Indonesia-Merdeka tiada mengganggu kemerdekaan negara lain, selama itulah negara lain tidak berhak mengganggu kemerdekaannya. Pengakuan Republik Indonesia oleh Negara lain bukanlah menjadi syarat adanya Republik Indonesia. Pengakuan itu adalah hal tersambil, satu hal di luar hak Rakyat Indonesia atas kemerdekaannya. Mengambil, merebut, atau melaksanakan kemerdekaannya itu, bukanlah satu perkara antara rakyat Indonesia dengan negara lain, melainkan urusan diri sendiri. 6) “MERDEKA 100%” adalah satu jaminan buat terus merdekanya Indonesia. Tanpa MERDEKA 100% Indonesia takkan bisa mengadakan kemakmuran cukup buat dirinya sendiri. Juga Indonesia walaupun merdeka tak akan bisa mempersenjatai dirinya sendiri, karena tak akan diberi kesempatan oleh kapitalisme asing buat mendirikan “Industri-Berat Nasional”. Kemerdekaan Indonesia abad ke-20 ini tak bisa dipisahkan dari “Industri-Berat Nasional” dan “Rencana Ekonomi”. 7) Indonesia tak bisa, tetapi tak pula perlu mempertahankan kemerdekaanya dengan jalan kemiliteran sejati. Perang kemerdekaan berlainan wataknya dengan perang imperialisme. Dalam perang imperialisme, kalau semua keadaan lain-lain bersamaan, maka tekniklah yang akan menentukan kalah-menangnya. Dalam perang kemerdekaan, kalau syarat teknik sedikit saja memadai, maka jiwa (psikologi) Murba, dan suara dunia umumnyalah (international public opinion) yang akan memberi putusan terakhir. Mungkin Inggris - Belanda - Jepang menjatuhkan Indonesia merdeka, tetapi tak pula mustahil Republik Indonesia bisa menggulingkan Inggris dan Belanda sebagai negara imperialis. Dengan begitu maka Indonesia sekarang berjuang bukan saja buat Rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga buat seluruh Rakyat tertindas di dunia.

SI PACUL : Rasanya sudah cukup 7 simpulan itu. Tetapi bagaimanakah muslihat dan daya upaya mempertahankan Indonesia Merdeka kita sekarang?

SI GODAM : Alamnya Rakyat Indonesia, susunan, watak dan hasrat masyarakat Indonesia serta organisasi berjuangnya banyak berlainan dengan negara lain. Muslihat buat mempertahankan dan memperkokoh Republik Indonesia Merdeka terpaksa pula diadakan pada “Brosur Istimewa”.